<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PALASMA</title>
	<atom:link href="http://palasma.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://palasma.wordpress.com</link>
	<description>Pecinta Alam SMA Negeri 1 Mataram</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Nov 2009 14:29:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='palasma.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>PALASMA</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://palasma.wordpress.com/osd.xml" title="PALASMA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://palasma.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PALASMA Reunion goes to Mt. Rinjani 3727asl</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com/2009/11/20/palasma-reunion-goes-to-rinjani/</link>
		<comments>http://palasma.wordpress.com/2009/11/20/palasma-reunion-goes-to-rinjani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 13:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan PALASMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palasma.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Aku menatap ke bawah… Turun gunung sungguh mematikan selera Terlalu banyak kerja keras, terlalu banyak malam tanpa tidur dan terlalu banyak mimpi yang sudah ditanam yang membawa kami sampai sejauh ini.. Kami juga tidak bisa kembali untuk mencoba lagi akhir minggu depan Jika kami turun sekarang, meskipun kami bisa melakukannya, berarti kami menuruni sebuah masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=32&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<address>Aku menatap ke bawah…<br />
</address>
<address>Turun gunung sungguh mematikan selera<br />
</address>
<address>Terlalu banyak kerja keras, terlalu banyak malam tanpa tidur dan terlalu banyak mimpi yang sudah ditanam yang membawa kami sampai sejauh ini..<br />
</address>
<address>Kami juga tidak bisa kembali untuk mencoba lagi akhir minggu depan<br />
</address>
<address>Jika kami turun sekarang, meskipun kami bisa melakukannya, berarti kami menuruni sebuah masa depan yang berisi tanda tanya besar; apa yang mungkin terjadi?<br />
</address>
<address> Thomas F. Hornbein<br />
Everest: The West Ridge</address>
<address><span id="more-32"></span><strong>November 10, 2008</strong></address>
<p>Team:</p>
<p>1.       Hesmin Herman</p>
<p>2.       Koesnadi</p>
<p>3.       Verdo</p>
<p>4.       Nukman</p>
<p>5.       Eka C. W.</p>
<p>6.       Herwin</p>
<p>7.       Windu (Simpatisan/new beginner)</p>
<p><strong>Sembalun  Alti: 960mdpl / 24°C / 14.00 wita</strong></p>
<p>Sembalun begitu cerah menyambut kedatangan kami. Setelah melakukan persiapan – persiapan akhir untuk memulai perjalanan ini, kami pun mulai berangkat. Jalur kita sedikit persingkat dengan mengambil jalan potong sebelum pos PHPA sehingga menghemat waktu perjalanan hingga 1 jam perjalanan. Mengingat hampir semua anggota team sudah lama tidak melakukan pendakian, jalur potong ini sangat berguna.</p>
<p>Perjalanan dimulai dengan melewati ladang – ladang penduduk sampai 30 menit perjalanan. Dan tepat 30 menit awal inilah kami langsung merasakan otot – otot kaku yang mulai terpaksa mengendur karena tak satupun dari kami yang mengenal istilah pemanasan. Kami hanya mengenal 1 buah pemanasan, yaitu pemanasan paru paru dengan sebatang rokok dan secangkir kopi pahit. Karena kami adalah orang – orang  yang SOK!</p>
<p>Setelah beristirahat sejenak perjalanan kami lanjutkan. Jalur mulai sedikit menggeliat. Bukit – bukit kecil mulai mewarnai perjalanan ditemani dengan kabut tipis yang terus membungkus tubuh kami. Sempat terlintas di benak kami bahwa kami pasti akan dihadang hujan karena terlihat mendung mulai sedikit menggantung. Tapi sungguh sebuah rahkmat Tuhan, mendung memang tak selalu berarti hujan.</p>
<p>Setelah melewati perbukitan kami mulai memasuki hutan kecil yang nampaknya banyak dihuni babi hutan karena banyak terlihat tanah hutan yang teraduk – aduk akibat ulah babi hutan saat mencari umbi umbian. Tanpa terasa, dengan beberapakali istirahat sejenak untuk mengendurkan urat – urat dan otot – otot ataupun sekedar photo sana sini dengan dibumbui guyuran segarnya air di tenggorokan kami, setelah keluar hutan, jembatan demi jembatan kami lalui tanpa halangan sampai akhirnya kami sampai di pos Pemantauan di ketinggian 1483mdpl.</p>
<p>Setiba di Pos pemantauan, bang Hesmin menanyakan hal yang sungguh masuk akal ketika melihat bang CW  membawa sepotong kayu, “buat apa kayu itu Cew?” Masuk akal bukan? Bang CW hanya menjawab, “saya bawakan kayu ini untuk tempat duduk kamu!”</p>
<p>Tak lama kami istirahat di Pos Pemantauan, perjalanan kami lanjutkan menuju Pos Tengengean.</p>
<p><strong>Pos 2 Tengengean  Alti: 1519mdpl / 14°C / 18.00 wita</strong></p>
<p>Tiba di Pos Tengengean tanpa perintah kami langsung mengerjakan tugas masing – masing, bang Hesmin mengambil air, bang Koes mempersiapkan dapur untuk kegiatan kulinernya, bang CW, bang Nukman, bang Verdo dan saya mempersiapkan tenda dan api. Sambil mempersiapkan api, kami pun sadar bahwa ternyata di tempat itu banyak kayu kering. Lalu bagaimana dengan potongan kayu yang dibawa bang CW sejak dari bawah pos Pemantauan? Potongan kayu itu benar – benar dijadikan tempat duduk oleh bang Hesmin! Tentu ada yang meringis melihat ini.</p>
<p>Menu kita adalah mie instant dengan telur di tambah dengan makanan jadi yang kita bawa dari rumah bang CW ( Thanks to CW’s mom) yaitu abon ikan asin pedas, kering tempe pedas dan sambal ikan teri yang PEDASSSSSS…. Wuuiiihhhh! SEDABBHH!</p>
<p>Selepas dinner kami bernyanyi lagu – lagu lawas yang biasa kita mainkan ketika dulu naik gunung, tapi sayangnya tak satupun lagi dinyanyikan dengan full version, karena terlalu banyak request sehingga sang gitaris agak cenderung malas memainkan secara lengkap. Ditemani bulan yang hampir bulat penuh, ditambah dengan kehangatan minuman STMJ (Susu Telor Madu Juga) dan kehangan api unggun (sampai saat ini potongan kayu yang dibawa bang CW belum berguna), malam di Tengengean sungguh indah. Sayang keindahan malam itu dirusak oleh suara kegiatan buang hajat salah seorang anggota team yang tidak mau disebutkan namanya.</p>
<p>Akhirnya setelah menyadari bahwa badan kami sudah mulai penat dan kesadaran bahwa ada perjalanan berat menanti kami esok hari, kami pun mendengkur. Ouupps, maaf kecuali bang CW yang tidak bisa tidur sedetikpun karena bang Hesmin tidak mengganti baju yang dipakai selama pendakian dengan baju kering untuk <em>bobok</em> dengan ketiak tersingkap.</p>
<p>Mau?</p>
<p><strong>November 11, 2008</strong></p>
<p><strong>Pos 2 Tengengean  Alti: 1519mdpl / 17°C / 09.00 wita</strong></p>
<p>Bangun jam 07.00 wita, semua sibuk mencari tissue dan tempat untuk melakukan perenungan. Sementara bang Koes dan saya mempersiapkan kopi dan sarapan untuk persiapan perjalanan menuju Pos Padabalong/Kali mati.</p>
<p>Setelah sarapan selesai dan kopi habis diseruput, kembali kami disibukkan dengan kegiatan komunikasi. Bang Koes sampai harus naik ke bukit agar mendapatkan sinyal bagus. Sementara bang CW sibuk mempersiapkan nomer mana yang akan dijadikan andalan.</p>
<p>Berangkat dari Pos Tengengean tepat pukul 09.00 wita. Perjalanan dimulai dengan mendaki bukit Tengengean. Pemanasan yang menyenangkan!</p>
<p>Perjalanan tetap ditemani dengan kabut tipis dengan kondisi cuaca cerah. Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Satu persatu dari kami sudah mulai merasakan GEMPOR. Jeda istirahat yang semula 1 jam sekali sekarang menjadi 30 menit sekali. Malah terkadang 15 menit sekali. Tapi dengan tekad kuat dan dengan dilandasi oleh semangat pantang surut langkah dari tujuan yang hendak dicapai maka kami pun terus bergerak. Walau kadang kami temukan salah seorang anggota team yang sudah ada di bukit seberang sementara anggota team yang lain masih harus mendaki dan menuruni bukit yang satu sebelum sampai pada bukit seberang itu. Itu suatu pemandangan yang nigmadh kok, sunguh!!</p>
<p>Yakin?</p>
<p><strong>Pos 3 Kali mati  Alti: 1800mdpl / 25°C / 11.00 wita</strong></p>
<p>Tiba di Kali mati, saya sebagai sweeper ( atau GEMPOR?  ‘ndak jelas) disambut dengan harumnya bumbu mie instant yang sedang disiapkan oleh bang Koes untuk makan siang kami. Kami makan dengan lahap, karena <strong>special</strong> <strong>menu</strong> kali ini adalah mie instant dengan telur dan makanan jadi yang kita bawa dari rumah bang CW ( Thanks to CW’s mom) yaitu abon ikan asin pedas, kering tempe pedas dan sambal ikan teri yang PEDASSSSSS…. Wuuiiihhhh! SEDABBHH! (halah! Menu tengengean lagi…)</p>
<p>Tidak lama kami istirahat, pukul 12.30 wita kami melanjutkan perjalanan ke Pelawangan Sembalun. Tantangan dimulai! Teeetteeettteeeeeeeeeeeeeeetttttt……..! Tanjakan tanpa henti menantikan kedatangan kami. Selain bang Hesmin dan Windu yang sebagai leader, posisi anggota team yang lain terus berubah. Semula saya sebagai sweeper, lalu bang Verdo kemudian bang Nukman lalu bang CW.</p>
<p>Kondisi team mulai kritis. Semua anggota kelaparan, karena makan siang tadi kami hanya makan secukupnya, padahal stock makanan berlimpah. Dan lebih parah lagi, persediaan air mulai menipis. Di bukit terakhir, akhirnya air habis! Semua melanjutkan perjalan dengan tanpa berbekal air minum sedikitpun. Sampai akhirnya kami melihat Pelawangan Sembalun di depan langkah kami. Akhir yang melegakan. Di base camp kami disambut dengan air yang melimpah karena Pelawangan Sembalun terkenal dengan kejernihan mata airnya. NIKMAT WOOO!</p>
<p>Tentu…..</p>
<p><strong>Pelawangan Sembalun  Alti: 2815mdpl / 13°C / 17.30 wita</strong></p>
<p>Kami langsung mengerjakan tugas kami masing – masing tanpa perintah. Mempersiapkan tenda, dapur , api unggun dan tempat barang. Makanan kami inventarisir kembali sebagai persiapan pendakian menuju puncak gunung Rinjani tengah malam nanti.</p>
<p>Bang Nukman mulai terkena serangan berbagai penyakit, mulai dari varises sampai ketidakmampuan mencium bau ikan sardines yang sedang dimasak bang Koes. Sementara bang Verdo mulai menanyakan siapa saja yang akan berangkat ke puncak.</p>
<p>Sewaktu di Mataram, kami kebingungan menentukan siapa yang harus <em>stay </em> di base camp. Tapi setelah di Pelawangan Sembalun? Hanya bang Verdo, Windu dan saya yang memastikan berangkat. Bang Verdo dan saya pasti berangkat karena memang memerlukan dokumentasi puncak sedangkan Windu karena baru pertama naik gunung. Bang Nukman sempat berubah pikiran tetapi berubah kembali.</p>
<p>Ya sudah,….</p>
<p><strong>November 12 2008</strong></p>
<p><strong>Pelawangan Sembalun  Alti: 2815mdpl / 9°C / 01.00 wita</strong></p>
<p>Kami terbangun jam 00.15 wita. Segera kami persiapkan segala keperluan untuk berangkat ke puncak. Menu kami adalah Corned goreng dan Sosis goreng. Bang Nukman sempat berubah pikiran kembali setelah mendengar bang CW akan turut serta dalam pendakian puncak, tapi berubah lagi setelah merasakan dingin yang menyerang. Bang CW pun batal karena terserang sakit kepala kronis. Setelah berdoa, kami bertiga berangkat. Leader di lakukan oleh bang Verdo.</p>
<p>Perjalanan langsung mengerikan!! Perjalanan menuju punggungan, sungguhlah berat. Selain kondisi jalur yang sudah hancur masih harus ditambah dengan jalur yang berpasir. 2 jam harus saya habiskan untuk menuju punggungan.</p>
<p>Setelah punggungan, jalur boleh dibilang bagus. Jalur cross country (istilah ini saya dapat dari bang Verdo) boleh dikata sangat tidak melelahkan. Cuaca sangat cerah. Malam bulan Purnama. WOW! Puncak gunung Rinjani sangat jelas terpampang di depan mata kami. Terlihat arogan, tapi itulah beliau, gunung Rinjani.</p>
<p>Perlahan lahan, jalur mulai bertambah berat. Dimulai dari sebelum puncak merah jalur kembali berpasir. Dengan kondisi yang belum pulih dari perjalanan berat menuju Pelawangan Sembalun, jalur terasa sangat berat bagi saya. Bang Verdo sudah jauh di depan, Windu sekitar 10 menit di bawahnya dan saya tertinggal sekitar 20 menit.</p>
<p>Masuk jalur batu lepas, kondisi kami bertiga sudah mulai menemui titik nadir. Terlebih saya dan bang Verdo baru sadar ternyata Windu sangat kuat minum sehingga kami kembali mendapatkan kondisi krisis air minum. Dan yang lebih merobohkan mental kami adalah para bule yang jelas jelas berangkat dari pelawangan Sembalun 2 jam lebih lambat dari kami sudah mendahului kami! Walaupun begitu kami terus berjalan. Bang Verdo pantang surut semangat berada 45 menit di atas saya dan Windu. Mental kami benar – benar diuji disini. Terlebih Windu yang baru pertama kali mendaki gunung. Windu sampai harus berteriak – teriak untuk menyulut semangat juangnya kembali berkobar.</p>
<p>Akibat gempor, akhirnya saya dan Windu menyaksikan sunrise di jalur batu lepas ini. Tapi kami tidak menyerah. Apalagi setelah melihat Bang Verdo telah mencapai puncak dan melambaikan tangan kepada kami agar terus berjuang.</p>
<p><strong>Puncak Kuning  Alti: 3525mdpl / 6°C / 06.00 wita</strong></p>
<p>Bang Verdo mencapai puncak gunung Rinjani tepat pukul 06.00 wita. Windu 06.50 wita dan saya tepat pukul 07.00 wita.</p>
<p>Kami bertiga langsung berpose sejadi jadian. Ada yang bergaya surfer, sok cool, sok senyum padahal silau sampai telanjang dada! Malah ada yang langsung jadi sok alim dengan bersembahyang di puncak gunung Rinjani.</p>
<p>Setelah ber hahahehe dengan 2 orang bule asal Irlandia (yang tidak suka Bono) dan Denmark kami pun turun kembali ke Pelawangan Sembalun. Perjalanan turun kembali diwarnai kegemporan saya dan Windu. Lapar dan haus menyerang perut dan tenggorokan kami.</p>
<p><strong>Pelawangan Sembalun  Alti: 2815mdpl / 20°C / 09.30 wita</strong></p>
<p>Tiba kembali di Pelawangan Sembalun, kami sudah ditunggu dengan sebotol air minum dan sepiring mie instant hangat. Thanks to bang Koes!</p>
<p>Setelah beristirahat sebentar kami langsung bersiap siap untuk turun kedanau Segara Anak yang indah. Inilah bonus dari semua perjalanan ini, danau Segara Anak.</p>
<p>Pukul 12.30 wita, kami pun berangkat. Perjalanan ke danau sungguh berat. Jalur batu yang terjal dan licin mewarnai perjalanan kami kali ini. Kabut basah mengiringi turut menemani perjalanan ini. Bang Hesmin dan bang Nukman jauh meninggalkan saya dan rekan yang lain. Tapi mengingat di jalur ini banyak sekali mitos – mitos mengerikan sehingga kami sedikit (?) takut untuk jalan berjauhan. Tak terasa akhirnya bonus itupun menampakkan diri. Danau Segara Anak!</p>
<p><strong>Segara Anak  Alti: 1815mdpl / 16°C / 17.00 wita</strong></p>
<p>Seperti biasa, setiba di danau kami langsung mengerjakan tugas yang belum dikerjakan. Ada yang membangun tenda + dapur. Ada yang langsung ambil air. Ada yang cuci piring dan gelas. Malah ada yang langsung mandi sembari mengambil air.</p>
<p>Bang CW dan bang Hesmin langsung mempersiapkan alat pancing mereka. Bang Hesmin dan bang CW menjanjikan kita pesta ikan malam ini.</p>
<p>Selagi semua sibuk mempersiapkan segala sesuatunya bang NUkman yang tadi langsung pergi mandi sekalian mengambil air pun datang sambil bertanya apakah kami sudah melihat bang Eka ‘Botol’ Karyadi? Ketika kami bertanya kembali, bang Nukman berkata, “ Saya belum ketemu bang Eka juga tapi di bawah pohon sebelah tenda kita, ada seseorang tidur (dengan hanya beralaskan ponco, berselimutkan sleeping yang sampai menutupi kepalanya , tanpa tenda dan bersepatu gunung Goretex) mengatakan kepada seorang pendaki yang lebih dulu ada di danau, kalau dia sedang menunggu temannya yang akan datang dari puncak. Kami pun menengok, ternyata benar orang tersebut sedang tertidur pulas. Sebagian dari kami yakin dia pasti bang Eka, tapi tak satupun dari kami yang berani menguji keyakinan tersebut dengan membangunkannya.</p>
<p>Akhirnya kami tidak terlalu mengacuhkan orang tersebut. Kami kembali dengan kegiatan masing – masing. Saya memasang bendera PALASMA di tiang depan tenda, bang Verdo photo sana sini karena sedang senang dengan kamera Nikon D60s barunya, bang Nukman ngomporin bang Hesmin dan bang Eka CW yang sedang memancing, bang Koes (tetap) mempersiapkan makan malam. Setelah bendera terpasang lalu kami mendengar Eka CW berteriak kepada saya, “Win, bang Eka Botol!” Saya, bang Koes dan Windu yang sedang leyeh leyeh celingak celinguk, dimana bang Eka Botol? Lalu saya mendengar seseorang berkata, “Beih, pake bendera….”</p>
<p>Kami pun kompak berseru, “Woi bang!” Saya, bang Verdo dan bang Nukman pun langsung menghampiri. Begitu kami hampiri, yang pertama kami katakan kepada bang Eka Botol adalah, “Beih kamu terlalu banyak <em>move (gaya, red) </em>bang!” Bagaimana tidak?! Seorang pendaki hanya berbekal terpal, ponco dan sleeping bag! Mendaki gunung Rinjani pula! Mau latihan <em>survival</em> bang?? Buat para pembaca, jangan sekali – kali mencoba tindakan abang kita yang satu ini. Walaupun telah melakukan 5 kali ekspedisi (Expedisi PALASMA Kerinci, Tour d’Jatra, Pendamping Expedisi Putri Semeru, PALASMA MALUKU BINAIYA ’94 (PAMALAYA’94) dan ekspedisi PALASMA Agung) tetap saja tidak kami rekomendasikan melakukan perbuatan tersebut..</p>
<p>Anyway, ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Akhirnya kami berkumpul kembali dimana tempat kami biasa berkumpul. Persahabatan yang kami jalin sejak kami masih sekolah masih tetap terpelihara sampai saat ini. Rasa kebersamaan kami tidak berubah. Kalau dihitung, sebagai anggota paling junior saja, saya telah bersahabat dengan mereka selama 17 tahun! Apalagi dengan mereka yang lebih senior, seperti bang Koes, bang Hesmin dan bang Eka Botol yang satu generasi.</p>
<p>Saya yakin hal ini tidak akan bisa diulang. Walaupun ada sedikit perasaan kurang, karena bang Andi dan bang Sobah tidak dapat ikut, saya dan teman – teman yang lain tetap gembira. Kami berkumpul kembali!</p>
<p>PALASMA reunion is back!</p>
<p>Di danau kami bersantai untuk melepaskan lelah kami, rindu kami dan mengekspresikan diri. Kami tertawa, saling ejek, saling bantu, bertukar cerita dan bertukar pengalaman setelah sekian lama kami berkutat dengan kapitalisme. Api unggun, kopi pahit, rokok kembali berputar menjadi media pengiring obrolan ceria kami.</p>
<p>Dan kami pun tertidur.</p>
<p>Lelah,</p>
<p>Gembira,</p>
<p>Puas..</p>
<p>Kami berkumpul kembali dimana kami dulu berkumpul ZZZzzzZZZzzzzzzz.z…zzz..zzzz grrookkk…ZZZzzzzZzzz</p>
<p><strong>November 13, 2008</strong></p>
<p>Bang Koes, bang CW dan bang Hesmin terbangun. Langsung mempersiapkan segala sesuatunya untuk memancing ikan di danau. Bang CW sesumbar, “Kalian semua tenang saja, ikan carver terbesar akan jadi santapan kita hari ini.” Bang Hesmin dan bang Koes ribut masalah siapa yang akan menggunakan alat pancing karena alat pancing hanya ada 2 unit.</p>
<p>Saya dan bang Verdo memasak air untuk minum kopi dan minuman hangat lainnya. Cuaca sangat cerah. Kabut masih menyelimuti danau. Dinginnya udara danau Segara Anak ditemani secangkir kopi pahit dan sebatang rokok sambil menikmati keindahan danau, sungguh sebuah pengalaman tak tergantikan.</p>
<p>1 jam pertama, bang Hesmin mundur dari arena pancing karena belum sarapan. Laper! Posisi digantikan bang Koes. Bang CW masih bertahan dengan keyakinan akan segera membengkokan pancing dengan tangkapan besarnya !!</p>
<p>1 jam kedua, bang Koes membuka peluang dengan mendapatkan ikan carver seberat 250gr. Bang CW meringis, bang Hesmin mendengus. Bang Hesmin protes karena merasa itu adalah alat pancingnya. Bang Koes mengalah menggunakan pancing ranting cemara.</p>
<p>Bang Koes memperoleh hasil kedua, ikan mujair. Kembali bang CW meringis dan kembali bang Hesmin mendengus. Bang Hesmin minta tukar alat lagi. Bang CW mulai menanyakan apakah ada diantara kami yang melangkahi alat pancingnya, karena itu dianggap tabu. Semua tersenyum karena itu tidak masuk akal!</p>
<p>Bang Koes kembali mendapatkan carver,  Bang CW berhasil menyangkutkan tali pancing di batu,  Bang Hesmin mendengusSs..</p>
<p>Sementara kegiatan memancing didominasi keberhasilan bang Koes, saya, bang Eka Botol, bang Nukman dan Windu memutuskan untuk berendam dan mandi air panas di Aik Kalak. 10 menit berjalan dari danau. Ah, indah sekali hidup ini. Saya sempat mengajak bang Verdo untuk bergabung, tapi nampaknya dia masih terlalu asyik dengan kamera barunya.</p>
<p>Setelah mandi, saya merasakan kesegaran luar biasa. Kabut kembali turun tetapi masih tetap menyisakan kecerahan. Kembali ke arena pemancingan, bang Koes telah memperoleh hasil tangkapan 6 ekor. 3 ekor carver dan 3 ekor mujair. Bang Hesmin? Tetap mendengus. Bang CW? Tampang mulai mengeras, kulit wajah terbakar dan bibir agak maju sedikit. Bang CW menganggap umpan yang digunakan bang Koes berbeda dengan yang digunakannya. Kembali semua tersenyum mencemooh..</p>
<p>Tidak sampai 30 menit saya di pinggir danau menyaksikan merka memancing, bang Hesmin mulai berhasil. Mujair tersangkut di pancing bang Hesmin. Kini giliran bang CW yang mendengus. Keberhasilan bang Hesmin diikuti bang Koes.</p>
<p>Akhirnya bang Koes berhasil membukukan kemenangan dengan skor 13 ekor, bang hesmin 5 ekor dan bang CW (sebagai pemilik kedua alat pancing) 2 ekor (saja).</p>
<p>Menu makan siang kami Ikan Bakar Mentega ala danau Segara Anak.</p>
<p>Tidak terasa waktu terus berlalu dengan cepat. Senja mulai turun. Dingin menggigit tulang menyelinap. Kami mulai meringkuk dekat dengan api unggun. Obrolan dilanjutkan. Canda tawa terdengar. Kartu pun mulai dikocok. Permainan Troop yang selalu kami mainkan dimulai. Bagaikan sebuah De Javu. Semua bagaikan masa lalu.</p>
<p>Esok kan menjelang, keceriaan ini akan segera berakhir. Kami harus kembali. Ingin rasanya memerintahkan sang waktu berhenti berputar agar masih ada waktu kami terus berkumpul disini. Di danau Segara Anak.</p>
<p><strong>November 14, 2008</strong></p>
<p>Hari itu pun tiba. Kami harus bersiap. Kami harus turun. Perjalanan panjang dimulai kembali. Pukul 07.30 wita kami sibuk dengan tugas masing – masing. Membongkar tenda, mengambil air dan mempersiapkan sarapan.</p>
<p><strong>Segara Anak  Alti: 1815mdpl / 25°C / 09.30 wita</strong></p>
<p>Kami harus mengalah oleh sang waktu. Kami benar – benar harus pulang. Setelah semua siap dan berdoa kami pun berangkat. Perjalanan pulang kami tempuh lewat jalur Torean. Sebuah jalur yang sangat indah. Kami berjalan menyusuri lembah gunung Rinjani. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Kegarangan tebing terjal lembah gunung Rinjani dan suara gemericik air mengiringi langkah kami. Tak henti hentinya bang CW mengeluarkan kamera untuk mengabadikan pemandangan indah itu. Di bawah kami nampak <em>kokoq puteq (kali putih) </em>yang berwarna putih seperti sebuah garis alur peta. Di kanan kami nampak dari kejauhan air terjun yang sangat tinggi, sayang belum ada jalur yang dapat menembus ke arah air terjun tersebut.</p>
<p>Perjalanan terus menurun terkadang kita harus sedikit memanjat tebing akibat rusaknya jalur.</p>
<p>Jalur Torean ini terkenal keindahannya tapi juga terkenal dengan jauhnya. Setelah berjalan selama 3 jam termasuk beberapakali jeda, hujan mulai menghadang kami. Keadaan ini memaksa kami untuk berhenti berjalan mengingat kabut yang sangat tebal dan kondisi jalur yang sangat licin menjadikan sangat riskan untuk melanjutkan perjalanan. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk makan siang di tengah perjalanan. Bivoak kami dirikan untuk tempat berteduh dan memasak makan siang.</p>
<p>2 jam kami menunggu hujan berhenti. Perjalanan dilanjutkan. Perjalanan mulai sedikit membosankan karena mulai masuk hutan sehingga pemandangan menjadi monoton. Sedikit tawa yang terdengar hanya pada saat kita berhasil menghindari serangan pacet.</p>
<p>Smoking break kami lakukan di sebuah shelter menjelang keluar hutan sembari menambah persediaan air minum. Perjalanan kami lanjutkan kembali karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 wita.</p>
<p>Akhirnya setelah berjuang mati matian agar tidak kemalaman di dalam hutan, kami pun tiba di dusun Torean pukul 18.30 wita. Perjalanan dari pinggir hutan menuju rumah penduduk yang sudah kami rencanakan sebagai titik penjemputan memakan waktu sekitar 30 menit berjalan kaki.</p>
<p><strong>Desa torean  Alti: 545mdpl / 27°C / 20.00 wita</strong></p>
<p>Setelah beristirahat sejenak dan berganti pakaian kering, kami pulang ke Mataram. Perjalanan panjang ini terus menyisakan kenangan di benak kami masing – masing. Selama perjalanan ke Mataram kami masih terus membahas kejadian – kejadian sepanjang perjalanan kami. Baik selama pendakian maupun ketika turun.</p>
<p>Suara Bono mengalun merdu di sepanjang perjalanan mengiringi kegelisahan kami, akankah perjalanan kami ini akan menjadi sebuah cermin kebersamaan dan kebersahabatan bagi semua anggota PALASMA? Tapi kalaupun tidak, setidaknya kami bisa membuktikan bahwa persahabatan kami murni hanyalah sebuah keinginan untuk selalu bersama, selalu berbagi, bercerita, berkeluh kesah dan tertawa. Karena menurut kami itulah arti hidup sebenarnya.</p>
<p><em>Hidup itu adalah ketika kita dapat menikmati hidup itu.</em></p>
<p>Salam lestari…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palasma.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palasma.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palasma.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palasma.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palasma.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palasma.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palasma.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palasma.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palasma.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palasma.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palasma.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palasma.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palasma.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palasma.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=32&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palasma.wordpress.com/2009/11/20/palasma-reunion-goes-to-rinjani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9691051e863ddae6daf46fc2458f2be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">PALASMA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi PAMALAYA&#8217;94</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com/2008/05/21/ekspedisi-pamalaya94/</link>
		<comments>http://palasma.wordpress.com/2008/05/21/ekspedisi-pamalaya94/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 04:49:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita seru]]></category>
		<category><![CDATA[Kegiatan PALASMA]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palasma.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 1994 angkatan XVI Pecinta Alam SMA Negeri 1 Mataram mengadakan program kerja Ekspedisi Pendakian Gunung Binaiya 3027mdpl. Gunung Binaiya 3027mdpl ini terletak di Propinsi kepulauan Maluku atau tepatnya di pulau Seram. Gunung Binaiya adalah salah satu gunung yang sangat jarang dijelajahi oleh para pecinta alam. Penjelajahan pertama dilakukan oleh WANADRI dengan nama sandi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=30&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="font-size:8pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pada tahun 1994 angkatan XVI Pecinta Alam SMA Negeri 1 Mataram mengadakan program kerja Ekspedisi Pendakian Gunung Binaiya 3027mdpl. Gunung Binaiya 3027mdpl ini terletak di Propinsi kepulauan Maluku atau tepatnya di pulau Seram. Gunung Binaiya adalah salah satu gunung yang sangat jarang dijelajahi oleh para pecinta alam. Penjelajahan pertama dilakukan oleh WANADRI dengan nama sandi Operation Raleigh pada tahun 1984. Team terakhir yang menjejakkan kakinya di puncak Binaiya sebelum PALASMA adalah SANDITALA ( Pecinta Alam SMA Sumbangsih, Jakarta).</span></h1>
<h1><span id="more-30"></span></h1>
<p><span style="font-size:8pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> Team pendakian PAMALAYA ’94 merencanakan akan menempuh rute pendakian Selatan – Utara dengan misi mencapai puncak Binaiya. Rute ini belum pernah digunakan oleh team ekspedisi lain, mengingat medan dan cuaca yang sulit diprediksi. Tetapi kelebihan jalur ini adalah dapat mempersingkat waktu ekspedisi. Apabila melewati jalur Utara &#8211; Utara makan akan memakan waktu sekitar 15 &#8211; 16 hari. Waktu normal untuk melakukan pendakian dengan menggunakan jalur Selatan &#8211; Utara ini adalah 12 hari.</span></p>
<p align="justify">Hari 1</p>
<p align="justify"><span style="font-size:8pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pendakian di mulai dari desa Mosso yang terletak di pesisir selatan pulau Seram, pada tanggal 2 Juli 1994 karena ditahan oleh hujan yang tiada hentinya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:8pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(Catatan : Bagi yang ingin melakukan pendakian di gunung Binaiya agar mendaki antara bulan Agustus sampai dengan Oktober karena pada bulan – bulan tersebut hujan agak berkurang ).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:8pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Team bergerak pada pukul 08.00 pagi hari dibawah rintik hujan dengan medan yang dilalui berupa perkebunan rakyat yang licin dan berlumpur serta tanjakan yang cukup melelahkan. Dua jam kemudian kami tiba di pintu hutan dan beristirahat untuk makan siang,</span><span class="contentpane"> pendakian dilanjutkan dengan medan yang semakin licin, hutan mulai menebal dan semak-semak yang rimbun karena jarang dilalui orang. Terkadang kami harus merambas semak untuk menemukan jalan serta melalui sungai besar dan kecil. Dalam perjalanan kami menemukan gua kecil ( liang ) untuk beristirahat ( camp ). Pada pukul 19.30, team tiba di liang II Silahata dan beristirahat disana ( dekat dengan sungai kecil ).</span><span class="contentpane"> <span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hari ke &#8211; 2 </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hujan masih juga belum berhenti.  Team bergerak pada pukul 09.00 melewati celah pegunungan menuju puncak Manusella, menyusuri pinggiran bukit dengan tanjakan yang rata-rata berkemiringan 70 derajat. Pohon-pohon di kawasan ini diselubungi lumut tebal. Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, kami tiba di puncak Manusella, namun desa Manusella tidak dapat kami lihat dengan jelas karena ditutupi oleh kabut. Team tidak membuang-buang waktu lantas ke desa Manusella dan tiba di sana pada malam hari.</span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hari ke &#8211; 3 </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Team bergerak kesiangan karena matahari menampakkan sinarnya karena matahari menampakkan sinarnya sehingga kami manfaatkan untuk mengeringkan barang-barang yang basah dan lembab. Rute Manusella – Silumena melewati hutan kecil dan menyusuri sungai ( sungai ini sering banjir pada waktu musim hujan ). Rute tersebut dapat ditempuh dalam waktu 5 jam.</span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hari ke &#8211; 4</span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Team berangkat menuju desa Kanikehyang yang direncanakan ditempuh selama setengah hari, rute ini  masih menyusuri kali Isal dan hutan kecil.</span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Namun kami sempat kehilangan jalan yang tertutup semak selama 5 jam sehingga kami dengan terpaksa harus bermalam di jalan.</span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> Hari ke &#8211; 5</span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Kami tiba di desa Kanikeh pada siang hari. Desa Kanikeh merupakan tempat beroperasinya <em>Operation Relight</em> pada tahun 1984 dengan ketinggian 480 mDpl dimana penduduk mayoritas beragama Kristen. Di desa ini telah terdapat sebuah Sekolah Dasar. Pada malam harinya, team mengadakan upacara adat untuk berkah keselamatan dalam perjalanan yang dipimpin oleh ketua adat desa Kanikeh karena gunung ini masih dianggap keramat oleh penduduk setempat.</span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hari ke &#8211; 6</span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Team berangkat pada pukul 07.30 setelah hujan agak mereda. Ransel, sebagian makanan dan barang yang tidak digunakan kami tinggal di desa Kanikeh. Pendakian menuju puncak Binaiya harus menggunakan/membawa pemandu dari desa Kanikeh. Satu jam pada awal perjalanan masih melalui perkebunan rakyat dan menyeberangi sungai, setelah itu menanjak memasuki hutan selama satu jam dan tiba di camp I, Wayansela ( 1000 mDpl ). Dari Wayansela menuju ke camp II Wai Huhu ( 1900 mDpl ). Pendakian semakin menanjak dan berlumut dimana di sekeliling kawasan ini dipenuhi dengan tumbuhan bambu beracu </span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">( istilah masyarakat setempat ) serta pohon pakis. Pukul 16.15 kami tiba di camp Wai Huhu, disini air tidak menjadi masalah karena hujan turun cukup lebat dan malam harinya team sempat was-was karena hujan belum mau berhenti.</span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hari ke &#8211; 7</span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hujan belum juga berhenti sehingga akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dalam hujan. Yang kami bawa dalam perjalanan menuju puncak hanya pakaian yang kami kenakan, makanan kecil dan perlengkapan dokumentasi. Sleeping bag dan perlengkapan lainnya kami tinggal di tenda. Kami bertekad untuk mencapai puncak hari itu juga. Medan hutan yang dilalui cukup rapat, sehingga kami bergerak hati-hati dan memberi tanda. Perjalanan melalui medan hutan selama satu jam dilanjutkan dengan medan berbatu cadas yang ditutupi lumut. Tepat pada pukul 11.55 team ekspedisi PAMALAYA ’94 tiba di puncak gunung Binaiya ( 3027 mDpl ). Setelah berdoa, berfoto dan makan di puncak Binaiya, akhirnya pada pukul 14.15 kami turun menuju camp Wai Huhu dimana perjalanan kami lakukan dengan sangat hati-hati mengingat kabut yang cukup tebal menutupi jalan yang kami lalui.</span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hari ke &#8211; 8</span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Team bergerak turun menuju ke desa Kanikeh melalui jalur yang sama.</span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hari ke &#8211; 9</span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Setelah bermalam satu hari di desa Kanikeh, kami meninggalkan desa melalui jalur utara. Medan disini tidak terlalu menanjak. Hanya melalui sungai besar dan kecil serta hutan yang tidak begitu lebat. Sore hari kami tiba di km 30 proyek HPH. Jalan tanah diguyur hujan sehingga berlumpur sedalam betis yang menghambat perjalanan kami. Kemudian kami mendapatkan tumpangan traktor di km 27. Di km 27 lumpur mulai berkurang dan tanah agak mengeras. Malam harinya kami bermalam di camp pekerja kayu.</span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hari ke &#8211; 10</span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Karena tidak ada truk yang masuk kami berjalan dari km 27 sampai km 11 dengan jalan yang becek dan udara panas karena pada hari ini hujan tidak turun. Di pulau Seram, apabila dibagian selatan musim hujan maka di bagian utara musim panas. Dari km 11 kami mendapat tumpangan truk kayu ke desa Alkamat. Dari desa Alkamat kami harus menyusuri pantai sepanjang 1 km menuju desa besi. Perjalanan terakhir team ekspedisi adalah menyeberang dari desa Besi menuju Saka ( Saleman ) menggunakan perahu kayu selama 1 jam. Senja hari kami tiba di terminal Saka.</span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Hari ke &#8211; 11</span></span></p>
<p align="justify"><span class="contentpane"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Team berangkat menuju Ambon menggunakan bis trans Seram.</span></span></p>
<p align="justify">Ekspedisi PAMALAYA&#8217;94 telah diselesaikan dengan sukses. Waktu 12 hari yang direncanakan akhirnya bisa lebih dipersingkat menjadi 10 hari. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan.</p>
<p align="justify">Sesampai di Mataram, team disambut oleh Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTB, Kepala Sekolah Menengah Atas 1 Mataram tercinta kami, bapak Drs. Sri Bintoro Hadiwidjojo, ketua PALASMA angkatan XVI Herwin Prabawananda dan seluruh pengurus beserta anggota dan para alumni.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/palasma.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/palasma.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palasma.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palasma.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palasma.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palasma.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palasma.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palasma.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palasma.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palasma.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palasma.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palasma.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palasma.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palasma.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palasma.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palasma.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=30&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palasma.wordpress.com/2008/05/21/ekspedisi-pamalaya94/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9691051e863ddae6daf46fc2458f2be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">PALASMA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>12 spesies paling terancam punah  saat ini</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com/2008/05/21/12-spesies-paling-terancam-punah-saat-ini/</link>
		<comments>http://palasma.wordpress.com/2008/05/21/12-spesies-paling-terancam-punah-saat-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 02:24:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Saduran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palasma.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, MINGGU &#8211; Organisasi lingkungan Wildlife Coservation Society (WCS) merilis 12 spesies paling terancam punah  saat ini dalam daftar &#8220;Rarest of the Rare.&#8221; Dalam daftar yang dirilis Jumat (16/5) itu tedapat jenis mamalia, ikan, reptil, amfibi, dan serangga. &#8220;Rarest of the Rare adalah potret sejumlah kecil spesies yang paling terancam punah untuk menggambarkan perjuangan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=29&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA, MINGGU</strong> &#8211; Organisasi lingkungan Wildlife Coservation Society (WCS) merilis 12 spesies paling terancam punah  saat ini dalam daftar &#8220;Rarest of the Rare.&#8221; Dalam daftar yang dirilis Jumat (16/5) itu tedapat jenis mamalia, ikan, reptil, amfibi, dan serangga.</p>
<p><span id="more-29"></span></p>
<p>&#8220;<em>Rarest of the Rare</em> adalah potret sejumlah kecil spesies yang paling terancam punah untuk menggambarkan perjuangan mereka dan menginspirasi publik untuk berjuang mempertahankannya,&#8221; ujar Kent Redford, direktur WCS Institute.</p>
<p>Pada tahun 2007, WCU/IUCN (World Corservation Union /International Union for Conservation of Nature) melaporkan bahwa jumlah hewan yang terancam punah di seluruh dunia mengalami kenaikan. Saat ini, dalam daftar merah WCS/IUCN terdaftar 16.306 hewan terancam punah atau naik 188 spesies daripada tahun 2006.</p>
<p>Ancaman yang dihadapi setiap jenis spesies berbeda-beda. Spesies endemik biasnya menghadapi persaingan sengit dengan spesies pendatang yang berkembang pesat. Sebab lainnya, kerusakan lingkungan yang menyebabkan perubahan habitat, perburuan liar, atau wabah penyakit mematikan.</p>
<p>Daftar 12 spesies yang paling terancam punah versi WCS tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Burung booby Abbott<br />
</strong>Burung laut besar yang memiliki warna khas hitam putih ini hanya hidup di Pulau Christmas, di Samudera India.</p>
<p><strong>2. Kambing Addax</strong><br />
Antelop atau sejenis kambing gunung yang memiliki tanduk spiral yang panjang ini aktif di malam hari dan hidup di gumuk pasir Gurun Sahara.</p>
<p><strong>3. Ikan hiu malaikat<br />
</strong>Predator laut yang aktif di malam hari, menjelajah dekat dasar laut di perairan Atlantik bagian Utara, Laut wcs release rerest of the rareMediterania, dan Laut Hitam.</p>
<p><strong>4. Burung puyuh Florican Benggala<br />
</strong>Burung puyuh darat berukuran besar ini hanya hidup di Kamboja, Nepal, Vietnam, dan India.</p>
<p><strong>5. Monyet tamarin singa berwajah hitam<br />
</strong>Jenis primata ini hidup di lubang pepohonan yang dibuat burung pelatuk dan makan serangga, buah, serta tumbuh-tumbuhan. Ditemukan pertama kali tahun 1990 di Superagui, Brazil dan jumlhanya tinggal tersisa 400 ekor.</p>
<p><strong>6. Penyu Birma<br />
</strong>Salah satu jenis penyu endemik Myanmar ini pernah banyak ditemui di sungai-sungai bagian tenag hingga selatan Myanmar. Namun, saatini sudah sangat jarang akibat perburuan daging maupun telurnya.</p>
<p><strong>7. Capung Sri Lanka</strong><br />
Dari 53 spesies capung endemik di Sri Lanka, 20 di antaranya terancam punah.</p>
<p><strong>8. Katak hijau beracun Panama<br />
</strong>Jenis katak dari Panama ini menghadapi kematian massal akibat wabah penyakit mematikan yang dibawa jamur.</p>
<p><strong>9. Paus Atlantik Utara<br />
</strong>Diburu sejak abad ke-10, jenis paus yang betanya mencapai 100 ton ini tinggal tersisa 350 ekor.</p>
<p><strong>10. Iguana Ricord<br />
</strong>Jenis reptil yang kulit terluarnya sangat cantik ini hanya ditemui di kawasan kering di barat daya Republik Dominika.</p>
<p><strong>11. Kuda nil kerdil<br />
</strong>Kuda nil bertubuh kecil yang hidup di hutan-hutan bagian utara LIberia, Guinea, Pantai Gading, dan Sierra Lione.</p>
<p><strong>12. Badak Sumatera</strong><br />
Hewan tersebut dikenal juga dengan sebutan badak Asia bermabut atau badak bercula dua. Badak yang hidup di hutan tropis Indonesia dan Malaysia diperkiraka tinggal tersisa 300 ekor.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/palasma.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/palasma.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palasma.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palasma.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palasma.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=29&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palasma.wordpress.com/2008/05/21/12-spesies-paling-terancam-punah-saat-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9691051e863ddae6daf46fc2458f2be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">PALASMA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendakian Gunung Gede-Pangrango</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/28/</link>
		<comments>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/28/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 06:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palasma.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Kisah perjalanan singkat menikmati keindahan alam Gede &#8211; Pangrango ini sebenarnya adalah salah satu pengalaman saya mendaki gunung yang paling menarik. Selain memang pengalaman pendakian saya sangat sedikit hehehehe&#8230; 10 Agustus 1998 Saya sedang mempersiapkan rencana pendakian saya ke Gunung Gede &#8211; Pangrango, Jawa Barat. Rencana pendakian ini sebenarnya sudah saya susun selama 4 bulan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=28&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah perjalanan singkat menikmati keindahan alam Gede &#8211; Pangrango ini sebenarnya adalah salah satu pengalaman saya mendaki gunung yang paling menarik. Selain memang pengalaman pendakian saya sangat sedikit hehehehe&#8230;</p>
<p><span id="more-28"></span></p>
<p><strong>10 Agustus 1998</strong></p>
<p>Saya sedang mempersiapkan rencana pendakian saya ke Gunung Gede &#8211; Pangrango, Jawa Barat.</p>
<p>Rencana pendakian ini sebenarnya sudah saya susun selama 4 bulan. Sejak pertemuan saya dengan seorang pendaki Yogya di gunung Rinjani pada bulan April lalu. Kami berjanji akan melakukan pendakian bersama ke gunung Gede &#8211; Pangrango sekaligus merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pada rencana awal, rekan &#8211; rekan PALASMA banyak yang tertarik akan berangkat. Tapi sayang setelah mendekati hari H, semua mengundurkan diri dengan berbagai macam alasan yang menurut saya sebenarnya sangat klise yang disampaikan oleh seorang pendaki gunung.</p>
<p>&#8220;Sorry bro, saya nggak dapet ijin dari orang tua&#8230;&#8221; Hahahahaha&#8230; ya sudahlah, mungkin pada saat itu para orang tua mereka sedang butuh kasih sayang sang anak hehehehe&#8230;</p>
<p><strong>12 Agustus1998</strong></p>
<p>Hari keberangkatan itupun tiba. Setelah menunggu 1 x 24 jam ternyata hanya saya sendiri yang memastikan keberangkatan ini. Karena bayangan pemandangan nan indah Alun alun Surya Kencana, akhirnya saya segera berangkat. Selagi menunggu angkutan umum, saya melihat ada seorang yang berlari sambil memanggul ransel hijau. Ternyata Sahrul Osh, seorang anggota SAMPALA, yang mendengar rencana keberangkatan saya berniat untuk ikut. Akhirnya saya berangkat berdua dengan Osh. Pukul 12.15 wita bus yang kami tunggu untuk mengantar kami ke pelabuhan Lembar pun tiba. The Journey is Began!</p>
<p><strong>13 Agustus 1998</strong></p>
<p>Saya terbangun akibat guncangan yang agak keras dari bus yang saya tumpangi. Saya dan Osh mendapat keberuntungan karena mendapat tawaran naik bus langsung dari pelabuhan Padang Bay, Bali ke terminal Ubung, Bali dengan  harga murah. Sesampai di Ubung kami langsung membuang isi perut dan kembali mengisinya di warung sekitar terminal. Kami memutuskan perjalanan akan kita lanjutkan ke Jember selanjutnya Solo baru kemudian dari Solo ke Jakarta.</p>
<p>Kami tiba di Jember sudah menjelang sore, kami langsung melanjutkan ke Solo.</p>
<p><strong>14 Agustus 1998</strong></p>
<p><strong></strong>Tiba di Solo sudah tengah malam.  Kami terpaksa tidur di terminal karena bus ke Jakarta sudah tidak ada. Menjelang subuh bus jurusan Jakarta tiba. Kami langsung naik walaupun setelah itu diomelin supir bus karena bus tidak akan langsung berangkat. Y sudahlah setelah nego-nego akhirnya kita diberi ijin tidur di bus sembari menunggu jam keberangkatan.</p>
<p>Akhirnya setelah terkatung &#8211; katung di terminal Solo dan mengalami pecah ban di sekitar daerah cirebon kami sampai di terminal Kampung Rambutan. Di sini kami sudah dijemput oleh teman lama saya, Jati Asmara.</p>
<p><strong>15 Agustus 1998</strong></p>
<p>Di kampung Rambutan kami kembali. Kami menunggu kedatangan Iwan yang berjanji akan bertemu kami di terminal ini untuk kemudian berangkat bersama ke Cibodas. Akhirnya setelah menunggu selama 45 menit Iwan pun datang maka kita segera berangkat.</p>
<p>Sesampai di Cibodas kami segera mengurus segala persyaratan administrasi sebelum melakukan pendakian. Masalah pertama muncul. Kuota pendakian gunung Gede-Pangrango dinyatakan penuh. Jadi kami harus menunggu konfirmasi dari jalur pendakian lain. Apabila juga penuh maka pendakian kami harus dibatalkan hari ini sampai ada pendaki yang sudah turun. Atau, apabila kuota dari jalur lain masih kosong maka kami akan diberikan kuota tersebut. Hal ini sangat mendebarkan karena saya dan Osh sudah melakukan perjalanan yang jauh dari Lombok, sementara sampai saat itu belum mendapat kepastian ijin mendaki kami peroleh. Akhirnya pada pukul 14.00 kita diperbolehkan naik. Ijin hanya diberikan untuk 15 team pendakian sementara kami ada di nomer urut 13! Nyaris!</p>
<p>Masalah kedua muncul. OSH TIDAK MEMILIKI KTP!!!! Mampus! Sementara syarat utama pendakian di gunung &#8211; gunung jawa terutama Gede &#8211; Pangrango yang terkenal disiplin KTP adalah WAJIB!</p>
<p>Untunglah disaat kebingungan itu ada 2 orang pendaki yang menawarkan KTP rekan mereka. Karena ternyata mendaki gunung Gede &#8211; Pangrango dalam 1 team minimal 3 orang pendaki. Pelajaran tambahan lagi buat kami, karena di gunung Rinjani pendakian solo sangat dimungkinkan dan diijinkan. Anyway, 2 orang pendaki tersebut mau memberikan KTP rekan mereka tersebut dengan syarat mereka diijinkan bergabung dengan team mereka. Akhirnya kami sepakat bergabung. Osh pun berubah nama menjadi RONNY hahahaha</p>
<p>Akhirnya masalah ketiga muncul juga. Di gunung Gede-Pangrango ada peraturan bahwa dalam 1 team pendakian maksimal membawa pisau 1 buah dengan ukuran yang sudah diatur dalam peraturan keselamatan pendakian. Sementara kami yang merupakan gabungan 2 team membawa 3 pisau. Saya dan Osh membawa masing 1 buah pisau sedangkan team lain membawa 1 lagi.</p>
<p>Saya sempat berdebat dengan pihak Jagawana karena menurut saya membawa pisau dalam pendakian adalah merupakan persyaratan mutlak bagi setiap pendaki. Pisau adalah perlengkapan pribadi bukan team. Tapi saya tetap tidak mungkin memenangkan perdebatan karena hal tersebut sudah diatur dalam peraturan dan petunjuk keselamatan untuk melukan pendakian ataupun kegiatan perkemahan dikawasan Taman Nasional Gede-Pangrango. Akhrinya kami diberikan sedikit solusi, menunggu team lain yang tidak membawa pisau. Kemudian pisau tersebut saya titipkan ke pada mereka untuk kemudian kami ambil kembali di akhir pendakian. Ya sudahlah daripada disuruh turun lagi?!</p>
<p>Akhirnya masalah semua sudah teratasi. Perjalanan tenang dimulai.</p>
<p>Saya takjub dengan jalur pendakian Gede-Pangrango. Jalurnya lebar dan bersih. Kami bisa berjalan beriringan bertiga dalam satu jalur. Belum jauh berjalan kita langsung dihibur dengan telaga Biru. Telaga seluas 5 hektar yang selalu nampak kebiruan karena ditumbuhi oleh ganggang biru. Sangat indah. Awal pendakian ini jalur masih terasa lembut. Tanah empuk yang masih agak landai. Kami juga menyempatkan diri melihat Air Terjun Cibeureum. Yang saya ingat ada sedikit legenda dengan Air terjun tersebut. Setelah 2 jam perjalanan, jalur mulai sedikit sangar sampai akhirnya kami bertemu dengan pos Air Panas.</p>
<p><strong>16 Agustus 1998</strong></p>
<p>Pagi, dingin, kabut, matahari dan semangat. Gambaran sederhana kalau baru bangun tidur di gunung.</p>
<p>Setelah buang isi perut kami lanjutkan dengan mengisinya. Lalu diselesaikan dengan melanjutkan perjalanan. Perjalanan kembali lembut kembali sangar.</p>
<p>Pukul 10.00 wib kami akhirnya sampai di pos Kandang Badak. Pos Kandang Badak merupakan pos utama tempat para pendaki beristirahat sebelum mengunjungi puncak Pangrango atau melanjutkan ke puncak Gede sebelum ke Alun alun Surya Kencana. Saya dan Osh berencana akan mengunjungi puncak Pangrango sebelum ke Alun alun.</p>
<p>Pukul 11.00 wib setelah puas beristirahat dan mengisi perut saya dan Osh melanjutkan perjalanan ke puncak Pangrango, sementara Iwan bertugas menjaga barang &#8211; barang kami di pos Kandang Badak. Perjalanan ke puncak Pangrango memakan waktu sekitar 3 jam naik dan 1 jam turun. Pukul 14.15 wib saya dan Osh tiba di puncak Pangrango.</p>
<p>Puncak Pangrango ditandai dengan adanya patok Pangrango setinggi 2m yang ditanam tepat dititik triangulasi tertinggi.</p>
<p>Sekembalinya ke Kandang Badak pada pukul 15.30wib, pada pukul 16.00wib kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Gede. Perjalanan mulai sangat menantang. Selain karena sudah mulai dipengaruhi ketinggian sehingga mulai dipengaruhi oleh disoriented syndrome, jalur memang sudah sangat terjal. Tiba di tanjakan SETAN kami semua bergelayut di seutas tali sebelum bisa melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Akhirnya pada pukul 18.30 wib kami tiba di puncak Gede 2.958mdpl. Tak terasa akhirnya satu persatu tujuan perjalanan ini tercapai. Dimulai dari tercapainya puncak Pangrango 3,019mdpl lalu puncak Gede dan sekarang sudah terhampar di depan mata Alun alun Surya Kencana yang fenomenal.</p>
<p>Pukul 19.00 wib, sewaktu gelap sudah mulai turun dan dingin sudah mulai mengecup kulit, kami tiba di Alun alun Surya Kencana. Tenda kami dirikan dengan kecepatan ekstra agar segera dapat menghindar dari gigitan dingin angin lembah yang sudah mulai berani menggigit tulang kami. Mungkin karena terlalu letih juga akhirnya kami langsung tertidur walaupun mengganjal perut hanya dengan biskuit berkalori tinggi. Tidak ada yang sanggup untuk memasak. TIDUR!</p>
<p><strong>17 Agustus 1998</strong></p>
<p>Akhirnya hari itu tiba. Hari kemerdekaan bangsa kita. 17 Agustus 1998. Kami semua bersiap. Kami semua berjalan menuju lapangan upacara. Upacara akan dipimpin oleh seseorang, yang karena anginnya cukup besar membuat saya nggak ndeger nama orang itu hehehehe..</p>
<p>Namun intinya adalah walaupun perjuangan yang saya lakukan untuk mencapai puncak Gede-Pangrango berbeda dengan perjuangan para pahlawan kemerdekaan kita, namun esensi dari perjuangan itu ikut saya rasakan. Inilah sebuah kebanggaan yang sangat sulit saya dapatkan ditempat lain. Selalu menjadi sebuah pendakian yang mempunyai makna.</p>
<p>Setelah selesai melakukan upacara bendera, kami lalu mempersiapkan diri untuk turun. Jalur turun kami rencanakan adalah lewat jalur yang sama saat naik. Tapi ternyata jalur Cibodas sangat penuh. Kami dapat melihat dengan jelas dari Alun alun para pendaki jalan perlahan untuk menunggu pendaki yang lain yang di depannya. Akhirnya kami putuskan untuk turun melalui jalur gunung Putri.</p>
<p>Jalur gunung Putri merupakan jalur hutan hujan tropis yang sangat lebat. Hal ini menyebabkan jalur sedikit licin sehingga tidak jarang para pendaki jatuh terpeleset. Termasuk saya juga sebenernya.</p>
<p>Semakin bawah hutan semakin terbuka dan akhirnya kita mulai masuk ke perkebunan sayur penduduk. Tidak beberapa jauh berjalan akhirnya kami sampai di warung penduduk yang ternyata sudah dipenuhi oleh para pendaki yang lain yang terlebih dulu sampai.</p>
<p><strong>18 Agustus 1998</strong></p>
<p>Saya dan Osh tepar selama hampir 18 jam!! Perjalanan seru, seandainya saya punya kesempatan lagi ingin rasanya saya mengulangnya. Tak terasa saya dan Osh harus segera bersiap lagi. PULANG!</p>
<p><strong>18 Mei 2008</strong></p>
<p>Sudah 10 tahun kenangan perjalanan itu. Dan sampai saat ini saya belum ada kesempatan lagi buat mengulang pendakian itu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/palasma.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/palasma.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palasma.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palasma.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palasma.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palasma.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palasma.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palasma.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palasma.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palasma.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palasma.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palasma.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palasma.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palasma.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palasma.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palasma.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=28&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/28/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9691051e863ddae6daf46fc2458f2be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">PALASMA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendakian Gunung Agung 2725mdpl</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/pendakian-gunung-agung-2725mdpl/</link>
		<comments>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/pendakian-gunung-agung-2725mdpl/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 02:22:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palasma.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Agung yang memiliki ketinggian 2725mdpl dan terletak di pulau Bali ini dapat kita tempuh melalui beberapa jalur sebenarnya. Kebetulan yang sudah pernah saya lalui adalah jalur Pura Besakih dan Jalur Pura Pasar Agung. Uniknya, setiap jalur pendakian memiliki puncak yang berbeda &#8211; beda pula. Karena puncak Besakih adalah yang tertinggi makanya Jalur Besakih menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=27&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gunung Agung yang memiliki ketinggian 2725mdpl dan terletak di pulau Bali ini dapat kita tempuh melalui beberapa jalur sebenarnya. Kebetulan yang sudah pernah saya lalui adalah jalur Pura Besakih dan Jalur Pura Pasar Agung. Uniknya, setiap jalur pendakian memiliki puncak yang berbeda &#8211; beda pula. Karena puncak Besakih adalah yang tertinggi makanya Jalur Besakih menjadi jalur umum yang paling sering dilalui oleh para pendaki bila ingin mendaki Gunung Agung.</p>
<p><span id="more-27"></span></p>
<p>Dalam kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman saya dan bang Verdo mendaki gunung Agung melalui Jalur Pura Pasar Agung.</p>
<p>Setelah packing barang dan melakukan persiapan kecil &#8211; kecilan, saya, bang Verdo dan teman sekantor kita Omo kita segera berangkat ke Kreneng sebelum ke Ubung sebagai terminal utama yang menjadi titik awal pendakian kita. Dari Ubung kita estafet ke Terminal Batu bulan, Gianyar. Segera setelah itu kita langsung mendapat bus jurusan terminal Klungkung. Sewaktu menunggu bus berikutnya yang akan membawa kita ke Pura Besakih (karena awalnya kita merencanakan naik lewat Jalur Pura Besakih) kami terlibat pembicaraan dengan seorang kernet bus. Doi mengatakan jalur Pura Pasar Agung lebih menantang. Merasakan desiran adrenalin yang mengalir deras kami menanyakan kepada Omo (karena Omo baru pertama mendaki gunung) mau nggak lewat jalur yang agak menantang. Si Omo bilang, &#8220;Siapa takut??&#8221; Akhirnya kita putuskan jalur pendakian melewati Jalur Pasar Agung. Dan kebetulan juga si kernet ngasi ongkos bus yang sama dengan ke Pura Besakih, walaupun katanya lebih jauh. OK! Sepakat! Berangkat!</p>
<p>Singkat cerita akhirnya kita sudah dalam perjalanan ke Pura Pasar Agung, dan ketika tiba di sebuah pertigaan kami bertiga yang kebetulan sebagai penumpang terakhir di suruh turun. Lho???? Pura Pasar Agungnya mana bli? Doi nyaut, &#8221; Oh, masih di atas sana. Mobil ndak ada ndak yang bisa naik kesana, sewa ojek aja!&#8221; katanya. Anjing!! Setelah sebal dan memaki-maki kita masih sempat diberi kado terakhir, ASEP KNALPOT BUS nya si kernet bangsat itu!</p>
<p>Akhirnya dengan langkah gontai kita berjalan menuju sebuah warung yang terletak di dekat pertigaan tersebut. Setelah beli makan beli minum si penjual mau juga bagi &#8211; bagi info. Katanya kalo naek ojek mahal, enakan naek Angkutan Desa aja lebih murah. Lah??? Siawalan!! Katanya kernet itu mobil nggak bisa naek ke sana!! OK lah setetlah cuap cuap akhirnya kita dapet tumpangan Angkutan Desa dengan charter Rp25.000,-.</p>
<p>Untuk menuju Pura Pasar Agung kita menempuh perjalanan selama 45 menit, melewati hamparan ladang penduduk yang masih sangat asri ditambah dengan pemandangan gunung yang sedikit sedikit dengan agak malu malu sudah mulai menampakkan diri.</p>
<p>Tiba di Pura Pasar Agung  ternyata kita masih harus menaiki tangga yang kok kayaknya nggak pernah habis! Setelah sampai halaman Pura, kita langsung disambut kabut tipis yang sudah mulai turun seiring dengan waktu yang sudah mulai senja. Selain disambut kabut, yang paling memukau adalah puncak gunung Agung yang langsung terpampang di depan mata kami. Wow! Indah nian!</p>
<p>Seperti yang kita tahu, pendakian gunung Agung adalah pendakian 1 hari. Beda dengan pendakian gunung Rinjani yang memakan waktu berhari &#8211; hari. Karena pendakian 1 hari, jadi kami nge-camp dulu di halaman pura sambil menunggu malam. Karena pendakian akan kita mulai tepat pukul 12 malam agar dapat melihat sunrise di puncak Gunung Agung.</p>
<p>Pukul 12.00 malam pun tiba, kami bersiap, kami berdoa dan kami mulai berjalan. Begitu masuk pintu hutan kami melihat tidak ada perbedaan mencolok antara jalur Pura Besakih dengan jalur ini. Tapi setelah 30 menit dari pintu hutan ennggg innnggg ennggggg&#8230;.. jebret! Jalurnya batu man!! kayak jalur Senaru di Rinjani! Ditemani cahaya bulan purnama, kami terus mendaki sambil sesekali istirahat memulihkan tenaga. Jalur pendakian ini walaupun jauh lebih terjal daripada jalur Besakih, namun menurut kami memang lebih menarik dan menantang. Karena di samping pandangan kita dapat lebih jauh melihat (karena Jalur Besakih adalah Hutan Tropis) di kanan kiri kita terdapat aliran &#8211; aliran mata air sehingga kita dapat lebih mudah mencari air kalau &#8211; kalau kehabisa air. Tidak seperti jalur Besakih yang sangat sulit air.</p>
<p>Pada pukul 6.15 wita akhirnya kami tiba di puncak. Pada saat itulah kami baru sadar ternyata puncak Pura Pasar Agung dengan puncak Pura Besakih itu berbeda. Puncak Pura Pasar Agung terletak di seberang Puncak Pura Besakih atau dipisahkan oleh kawah gunung Agung dan tebing curam yang dalam sehingga memang tidak memungkinkan untuk kita menyeberang kita puncak seberang. Di puncak inilah saya mendapat kehormatan untuk memotong rambut bang Verdo, sehingga tidak Grondong lagi.</p>
<p>Sampai saat ini saya dan bang Verdo belum sempat mencoba jalur pendakian yang lain yaitu Jalur desa Buddhakeling. Mudah &#8211; mudahan ada kesempatan sehingga bisa saya ceritakan lagi di forum ini. Atau mungkin ada yang akan menceritakan kepada saya dan bang Verdo?</p>
<p>Salam Lestari</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/palasma.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/palasma.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palasma.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palasma.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palasma.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=27&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/pendakian-gunung-agung-2725mdpl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9691051e863ddae6daf46fc2458f2be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">PALASMA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendakian Gunung Rinjani 3726mdpl</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/pendakian-gunung-rinjani-3726mdpl/</link>
		<comments>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/pendakian-gunung-rinjani-3726mdpl/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 01:53:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palasma.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingat waktu itu tanggal 29 Desember 2003 ketika saya berencana dengan Abang Verdo untuk mendaki gunung kebanggaan kita Gunung RINJANI. Kita berencana untuk merayakan tahun baru di danau yang super duper indah Danau Segara Anak. Awalnya kami sempat kecewa karena teman &#8211; teman yang awalnya janji akan ikut gabung ternyata membatalkan secara sepihak dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=26&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="contentdescription">Saya ingat waktu itu tanggal 29 Desember 2003 ketika saya berencana dengan Abang Verdo untuk mendaki gunung kebanggaan kita Gunung RINJANI. Kita berencana untuk merayakan tahun baru di danau yang super duper indah Danau Segara Anak. Awalnya kami sempat kecewa karena teman &#8211; teman yang awalnya janji akan ikut gabung ternyata membatalkan secara sepihak dan tanpa konfirmasi lebih lanjut. Lebih parah lagi ada salah seorang abang kita (baca: Koesnadi, red) yang menjanjikan akan menyusul ke Senaru (desa terakhir, red) sehingga mengharuskan kami menunggu hingga menjelang sore hari.</p>
<p class="contentdescription"><span id="more-26"></span></p>
<p align="justify">Akhirnya setelah dibuat frustasi akan penantian yang tiada akhir kami berdua memutuskan untuk memulai pendakian hanya berdua. Pendakian kita mulai tepat pukul 16 lebih 17 menit 11 detik Waktu Indonesia Tengah (WITA). Dengan formasi saya sebagai leader sementara bang Verdo (seperti biasa) menjadi sweeper.</p>
<p align="justify">Sewaktu pendakian dimulai kami berdua tidak merasakan firasat apapun selain gembira karena akhirnya mempunyai kesempatan (lagi) untuk mendaki Gunung Rinjani. Diiringi dengan musik BOB DYLAN dari radio/tape mungil hasil pembelian mesin cuci (mamanya) bang Verdo kami mulai mendaki dengan semangat juang &#8217;65.</p>
<p align="justify">Kesalahan pertama kita mulai ketika maghrib mulai menjelang (sandikala dalam agama Hindu &#8211; red). Tanpa memperhatikan alam (terlihat dan tidak terlihat(sekala niskala dalam agama Hindu &#8211; red)) sekitar kami, kami &#8216;cuek&#8217; aja makan crackers sambil jalan ataupun tertawa terbahak-bahak sambil tetap mendengarkan musik (sebenarnya hal tersebut kita lakukan untuk menghilangkan rasa takut yang mulai menyerang terutama ketika melewati BUNUT NGENGKANG &#8211; red). Kami tersadar akan kesalahan tersebut sejak kami melihat jam dan tanda &#8211; tanda alam sekitar. Ternyata kita sudah melewati jalan yang sama sebanyak 2 kali sementara POS 2 sampai saat itu belum terlihat!!! Sadar akan kesalahan tersebut akhirnya saya memutuskan untuk over position dengan bang Verdo karena saya sebagai leader mulai merasakan kepanikan yang RUuuAaar BiaAsaa!!</p>
<p align="justify">Setelah formasi berubah ternyata kita melewati jalan yang sama kembali dengan tanda &#8211; tanda yang sama ketika akan mencapai POS 2 tapi POS 2 tetap tidak terlihat batang hidungnya (maaf, maksudnya batang kayunya &#8211; red)!! Akhirnya kami berdua melaksanakan metode STOP (Sit, Think, Observe, Plan) yang sebenarnya pernah kita lakukan hanya sewaktu pendidikan ( itupun karena pura &#8211; pura tersesat &#8211; red ). Hasil metode STOP tersebut kami pun menyadari kesalahan kami dan memutuskan untuk memberikan sesembahan atau sesaji berupa makanan yang kami bawa dan sebatang rokok. Tak lama rokok tersebut pun habis terbakar dan secara tak sengaja kami mengarahkan senter ke balik pohon dan akhirnya apa yang kami cari selama 4 jam itu pun terlihat, rekan &#8211; rekan pembaca. POS 2!!!</p>
<p align="justify">Di POS 2 kami hanya makan nasi bungkus yang kami bawa dari Senaru (desa terakhir &#8211; red) dan membakar 1 batang rokok berdua untuk mempercepat waktu kita di POS 2. Karena selain hanya kami berdua di POS 2, kami juga sebenarnya sangat atyuuutttt&#8230;.!!!</p>
<p align="justify">Akhirnya setelah mengahabiskan sebatang rokok kami melanjutkan perjalanan ke POS 3 dan bermalam di POS 3. Lalu keesokan paginya melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak yang indah. Sesampainya  di Base Camp danau barulah kami berdua membayangkan perjalanan SYEREEM kami berdua tersebut. Seandainya kita tidak pernah mengenal metode STOP yang pernah diajarkan di pendidikan. Terima kasih kami ucapkan kepada abang &#8211; abang instruktur PDPA yang sudah mengajarkan metode STOP kepada kami.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/palasma.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/palasma.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palasma.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palasma.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palasma.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palasma.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palasma.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palasma.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palasma.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palasma.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palasma.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palasma.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palasma.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palasma.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palasma.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palasma.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=26&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/pendakian-gunung-rinjani-3726mdpl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9691051e863ddae6daf46fc2458f2be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">PALASMA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PALASMA going to hike!</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/palasma-going-to-hike/</link>
		<comments>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/palasma-going-to-hike/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 01:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan PALASMA]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palasma.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Air terjun Geripak, desa Guntur Macan.. Minggu, 20 April 2008<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=24&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://anakpalasma.org/images/stories/geripak2008.jpg" border="0" alt="Image" hspace="6" width="410" height="324" align="middle" /></p>
<p>Air terjun Geripak, desa Guntur Macan.. Minggu, 20 April 2008</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/palasma.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/palasma.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palasma.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palasma.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palasma.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=24&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palasma.wordpress.com/2008/05/19/palasma-going-to-hike/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9691051e863ddae6daf46fc2458f2be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">PALASMA</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anakpalasma.org/images/stories/geripak2008.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Save Our Ozone-Layer</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com/2007/09/24/save-our-ozone-layer/</link>
		<comments>http://palasma.wordpress.com/2007/09/24/save-our-ozone-layer/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 08:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palasma.wordpress.com/2007/09/24/save-our-ozone-layer/</guid>
		<description><![CDATA[our live is a journey a journey with ONE destination let&#8217;s be a part of it or you will lose your destination the destination where we could put our hope for our next generation save our ozone-layer now!!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=23&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>our live is a journey<br />
a journey with ONE destination<br />
let&#8217;s be a part of it<br />
or you will lose your destination<br />
the destination where we could put our hope<br />
for our next generation</p>
<p>save our ozone-layer<br />
now!!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/palasma.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/palasma.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palasma.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palasma.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palasma.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palasma.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palasma.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palasma.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palasma.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palasma.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palasma.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palasma.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palasma.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palasma.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palasma.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palasma.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=23&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palasma.wordpress.com/2007/09/24/save-our-ozone-layer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9691051e863ddae6daf46fc2458f2be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">PALASMA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memilih sepatu perjalanan</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com/2007/09/20/memilih-sepatu-perjalanan/</link>
		<comments>http://palasma.wordpress.com/2007/09/20/memilih-sepatu-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 02:45:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saduran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palasma.wordpress.com/2007/09/20/memilih-sepatu-perjalanan/</guid>
		<description><![CDATA[Memilih sepatu perlu mempertimbangkan kegiatan yang akan dilakukan, kondisi daerah yang akan dilalui, cuaca serta beban yang akan dibawa. Heavy-duty boots lebih cocok untuk segala aktifitas. Sedangkan sepatu yang ringan jangan dipakai untuk membawa beban yang berat. Sepatu baru jika langsung digunakan dapat mengakibatkan kaki lecet. Oleh karena itu anda harus mencobanya berulangkali sebelum dipergunakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=21&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memilih sepatu perlu mempertimbangkan kegiatan yang akan dilakukan, kondisi daerah yang akan dilalui, cuaca serta beban yang akan dibawa. Heavy-duty boots lebih cocok untuk segala aktifitas.<span id="more-21"></span></p>
<p>Sedangkan sepatu yang ringan jangan dipakai untuk membawa beban yang berat. Sepatu baru jika langsung digunakan dapat mengakibatkan kaki lecet. Oleh karena itu anda harus mencobanya berulangkali sebelum dipergunakan untuk perjalanan jauh. Rendam sepatu kulit anda dan pakailah pada saat basah sampai kering kembali, tetapi jangan mencoba pada saat perjalanan itu sendiri. Kasihan nanti kaki anda!</p>
<p>Sepatu Sport</p>
<p>Sepatu sport nyaman di pakai tetapi tidak memberikan perlindungan seperti sepatu yang keras. Memakai sepatu sport memang terasa lembut di kaki, tetapi mudah terluka.</p>
<p>Sepatu Bahan</p>
<p>Sepatu bahan lebih nyaman untuk perjalanan jarak singkat, selama daerah yang dilalui tidak kasar. Sepatu bahan memberikan perlindungan lebih sedikit dibanding dengan sepatu kulit.</p>
<p>Sepatu Salju Plastik</p>
<p>Sepatu salju melapisi kaki dengan rapat. Didesain untuk membuat kaki keras pada waktu menggunakan crampon untuk berjalan di es atau salju, sepatu ini membuat jalan terasa aneh (janggal). Didalam sel plastik yang kuat ada lapisan penghangat yang terpisah untuk melindungi kaki anda dari permukaan yang membeku. Anda dapat menggunakan lapisan dalam sepatu ini saat berada di tenda.</p>
<p>Sepatu Gurun</p>
<p>Dengan sol yang kuat dan kulit yang ringan, sepatu gurun memudahkan kaki untuk bernafas. Bentuknya yang tinggi melindungi pergelangan kaki terkena semak berduri. Jika basah akan memerlukan waktu yang lama untuk mengering</p>
<p>Sepatu Hutan</p>
<p>Di desain untuk lingkungan yang basah, sepatu ini terdiri dari sol karet dan kanvas bagian atas yang cepat mengering</p>
<p>Sepatu Hiking</p>
<p>Sepatu jenis ini biasanya lebih berat, lebih kuat, dan memberi perlindungan terhadap kaki yang lebih baik. Dirancang sedemikian rupa sehingga kekuatannya boleh diandalkan. Sol yang keras akan lebih mantap ketika berpijak, di samping tahan air pada bagian pergelangan kaki terdapat lapisan penunjang untuk lebih memperkuat.</p>
<p>MEMBERSIHKAN SEPATU</p>
<p>1 Lepaskan tali dan lapisan dalam sepatu dan bersihkan semua kotoran.</p>
<p>2 Biarkan sepatu kering secara menyeluruh, hindari dari panas matahari langsung yang akan merusak kulit.</p>
<p>3 Setelah kering, olesi sepatu anda dengan krim anti air dan simpan di tempat yang sejuk.</p>
<p>LAPISAN ANTI AIR</p>
<p>Sepatu kulit harus dilapisi dengan krim anti air secara teratur agar lebih kuat dan tahana air. Krim pelapis dengan bahan dasar lilin adalah salah satu yang terbaik. Pelapis silikon juga baik dalam melindungi sepatu kulit dari kerusakan pada cuaca yang sangat dingin.</p>
<p>PERAWATAN KAKI</p>
<p>Kaki anda menanggung beban atas berat badan anda dan juga beban perlengkapan anda. Selain memberi perlindungan dan kenyamanan kaki dengan sepatu yang baik, dalam perjalanan kesehatan kaki pun harus juga diperhatikan sepanjang hari. Ingat! kaki adalah “mahkota” dalam perjalanan. Beberapa hal di bawah ini adalah perawatan yang harus dilakukan:</p>
<p>Menggunting Kuku</p>
<p>Gunakan pemotong kuku yang besar, potong pendek dan rata kuku kaki anda. Kuku yang panjang akan patah atau menyebabkan luka pada bagian pangkal kuku.</p>
<p>Mencuci</p>
<p>Dalam kaos kaki tebal dan sepatu hiking kaki akan selalu berkeringat, menyebabkan timbulnya mikroba. Cuci kaki anda dengan sabun, sedikitnya satu kali sehari, bersihkan kuku kaki anda secara seksama. Di samping menjadi sehat juga bebas dari bau.</p>
<p>Pengeringan</p>
<p>Keringkan kaki anda secara teliti dengan handuk atau lap kasar. Setelah kering, biarkan kaki anda terkena sinar matahari dan udara segar, hati-hatilah untuk menghindari luka bakar.</p>
<p>Bedak</p>
<p>Gosokan bedak anti jamur pada sela-sela jari kaki anda untuk mencegah kaki anda tidak lembab dan mudah terkelupas. Untuk menyembuhkan kaki yang terkelupas, bersihkan kulit yang terkelupas tersebut kemudian gosokan bedak.</p>
<p>MEMIJAT KAKI</p>
<p>Berjalan jauh dengan membawa beban cenderung melebarkan kaki anda, menegangkan dan melelahkan tulang, otot dan sendi-sendi. Anda dapat menyembuhkan dengan pijatan. Genggam satu telapak kaki dengan kedua tangan dan gosok perlahan dengan menggunakan ibu jari. Pijatan juga baik untuk meningkatkan sirkulasi dan mengurangi gatal yang disebabkan oleh kurangnya sirkulasi.</p>
<p>MEMILIH KAOS KAKI</p>
<p>Pertimbangkan kondisi perjalanan yang akan anda lalui pada saat memilih kaos kaki. Kaos kaki tebal yang terbuat dari wool akan memberikan perlindungan yang lebih baik untuk kkai anda terhadap panas dan permukaan beku. Sediakan beberapa pasang kaos kaki. Kaos kaki yang tipis akan cepat basah oleh keringat dan akan mudah sobek.</p>
<p>GAITERS</p>
<p>Sepatu tahan air dapat membuat kaki panas dan berkeringat, yang akan menyebabkan kaki berkerut, panas dan gatal. Memakai gaiters adalah lebih baik karena gaiters memudahkan kaki untuk bernafas, menjaga dari lumpur dan air, dan mencegah celana dari basah karena rerumputan. Gaiters salju mencegah salju masuk melalui bagian atas sepatu. Semua gaiters berventilasi baik.</p>
<p>Sumber: www.boogieadvindo.com</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/palasma.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/palasma.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palasma.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palasma.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palasma.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palasma.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palasma.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palasma.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palasma.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palasma.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palasma.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palasma.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palasma.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palasma.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palasma.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palasma.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=21&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palasma.wordpress.com/2007/09/20/memilih-sepatu-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9691051e863ddae6daf46fc2458f2be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">PALASMA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada apa dengan sepatu gunung?</title>
		<link>http://palasma.wordpress.com/2007/09/20/ada-apa-dengan-sepatu-gunung/</link>
		<comments>http://palasma.wordpress.com/2007/09/20/ada-apa-dengan-sepatu-gunung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 02:43:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palasma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saduran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palasma.wordpress.com/2007/09/20/ada-apa-dengan-sepatu-gunung/</guid>
		<description><![CDATA[Bahan sepatu yang baik harusnya bisa memenuhi empat syarat, yakni; membuat sepatu terasa lebih nyaman, bisa memperkecil risiko kulit kaki melepuh, bisa menyerap keringat dari kaki, dan mampu cepat kering. Banyak produksi sepatu sekarang lebih memilih menggunakan bahan sepatu bermembran antiair tapi tetap dapat bernapas, seperti bahan Sympatex atau Gore-Tex. Karena bahan jenis tersebut menjamin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=20&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan sepatu yang baik harusnya bisa memenuhi empat syarat, yakni; membuat sepatu terasa lebih nyaman, bisa memperkecil risiko kulit kaki melepuh, bisa menyerap keringat dari kaki, dan mampu cepat kering.<span id="more-20"></span></p>
<p>Banyak produksi sepatu sekarang lebih memilih menggunakan bahan sepatu bermembran antiair tapi tetap dapat bernapas, seperti bahan Sympatex atau Gore-Tex. Karena bahan jenis tersebut menjamin tidak akan masuknya berbagai jenis cairan dan menjamin tercukupinya syarat bahan sepatu yang baik.</p>
<p>Jenis sepatu yang baik sekarang biasanya menggunakan tiga jenis lapisan sol. Sol terluar (outer sole), paling bagus terbuat dari bahan karet campuran. Karena dapat mengurangi risiko terpeleset bila sedang melakukan aktivitas di alam bebas. Cobalah lihat sol bagian terluar tersebut, yang baik biasanya memiliki pola tapak bergerigi dan pada tumit terdapat pola setengah bulat sehingga dapat menggigit tanah.</p>
<p>Dua lapisan sol yang lain adalah sol tengah (mid sole) dan sol terdalam (in sole). Sol tengah biasanya terbuat dari plastik atau lapisan nilon yang biasanya berjenis sangat tipis. Sementara kaku tidaknya lapisan tersebut tergantung dari dan untuk apa sepatu ini dibuat. Lapisan sol tengah yang kaku dibuat untuk pendakian gunung salju, sedangkan lapisan sol tengah yang semi kaku digunakan pada sepatu yang diperuntukan untuk trekking sampai dengan scrambling.</p>
<p>Sol bagian terdalam sepatu biasanya diambil dari bahan busa empuk. Tapi kebanyakan sepatu sekarang tidak didesain untuk mengoptimalkan fungsi ‘in sole’ tersebut. Fungsi sol terdalam yang mendukung kenyamanan dan kualitas peredaman terhadap kejutan sangat kecil.</p>
<p>Jika anda menginginkan lapisan ini bekerja lebih memuaskan disarankan Anda membuat anggaran lebih untuk hal tersebut. Sampai sekarang mulai banyak perusahaan sepatu perusahaan sepatu yang khusus memproduksi lapisan dalam sepatu seperti ini. Perusahaan seperti Spenco dan Sorbhotone mungkin menjadi satu-satunya pilihan yang ada sekarang. Meskipun ternyata masih sulit didapatkan di Indonesia. Tapi minimal Anda bisa membuat sendiri lapisan dalam ini dengan memotong lapisan busa tipis yang dilapisi kain bersifat menyerap cairan.</p>
<p>Pola Kaki</p>
<p>Bentuk sepatu bagaimana yang cocok untuk kaki kita perlu juga kita ketahui. Seperti kita ketahui ada berbagai jenis ukuran dan bentuk kaki manusia. Pola tapak yang berbeda membuat kita harus lebih teliti dalam memilih sepatu. Orang dengan pola tapak kaki lebar harus memilih sepatu dengan pola tapak lebih lebar, daripada sepatu yang mempunyai pola tapak sempit. Sekarang banyak perusahaan membuat sepatu yang disesuaikan dengan kelebaran tapak. Karena, biasanya sepatu untuk wanita didesain lebih pendek daripada untuk pria.</p>
<p>Semua gambaran di atas tentang bentuk sepatu tidak dapat hanya dilihat saja untuk mengetahui bagus tidaknya, tapi juga harus dirasakan dengan memakainya. Rasakan semua bagian dalam sepatu, termasuk lapisan busa yang ada di antara bagian atas leher sepatu dan rasakan juga bahan pelapis sepatu. Sepatu yang lebih rendah mutunya memiliki lapisan busa yang mempunyai fungsi penyerapan sedikit dan memerlukan waktu lama untuk kering.</p>
<p>Dalam kondisi beraktivitas di pegunungan atau alam bebas pilih sepatu yang memiliki lapisan pelindung mata kaki dan mempunyai lidah sepatu panjang serta menyatu dengan leher sepatu. Bagian ini kalau bisa ada lapisan nylon atau plastik di bagian dalamnya, ini dapat dirasakan di sekitar bagian leher dan lidah sepatu. Lapisan busa yang dilindungi plastik ini dapat mendukung kenyamanan sepatu dan berguna untuk melindungi kaki. Bagian leher sepatu yang menutup hingga mata kaki, melindungi kaki dan mata kaki dari terantuk batu dan terkilir. (Sulung Prasetyo S)</p>
<p>Sumber : sinarharapan.co.id</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/palasma.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/palasma.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palasma.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palasma.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palasma.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palasma.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palasma.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palasma.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palasma.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palasma.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palasma.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palasma.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palasma.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palasma.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palasma.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palasma.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palasma.wordpress.com&amp;blog=1740672&amp;post=20&amp;subd=palasma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palasma.wordpress.com/2007/09/20/ada-apa-dengan-sepatu-gunung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9691051e863ddae6daf46fc2458f2be?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">PALASMA</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
