Pada tahun 1994 angkatan XVI Pecinta Alam SMA Negeri 1 Mataram mengadakan program kerja Ekspedisi Pendakian Gunung Binaiya 3027mdpl. Gunung Binaiya 3027mdpl ini terletak di Propinsi kepulauan Maluku atau tepatnya di pulau Seram. Gunung Binaiya adalah salah satu gunung yang sangat jarang dijelajahi oleh para pecinta alam. Penjelajahan pertama dilakukan oleh WANADRI dengan nama sandi Operation Raleigh pada tahun 1984. Team terakhir yang menjejakkan kakinya di puncak Binaiya sebelum PALASMA adalah SANDITALA ( Pecinta Alam SMA Sumbangsih, Jakarta).
Team pendakian PAMALAYA ’94 merencanakan akan menempuh rute pendakian Selatan – Utara dengan misi mencapai puncak Binaiya. Rute ini belum pernah digunakan oleh team ekspedisi lain, mengingat medan dan cuaca yang sulit diprediksi. Tetapi kelebihan jalur ini adalah dapat mempersingkat waktu ekspedisi. Apabila melewati jalur Utara – Utara makan akan memakan waktu sekitar 15 – 16 hari. Waktu normal untuk melakukan pendakian dengan menggunakan jalur Selatan – Utara ini adalah 12 hari.
Hari 1
Pendakian di mulai dari desa Mosso yang terletak di pesisir selatan pulau Seram, pada tanggal 2 Juli 1994 karena ditahan oleh hujan yang tiada hentinya.
(Catatan : Bagi yang ingin melakukan pendakian di gunung Binaiya agar mendaki antara bulan Agustus sampai dengan Oktober karena pada bulan – bulan tersebut hujan agak berkurang ).
Team bergerak pada pukul 08.00 pagi hari dibawah rintik hujan dengan medan yang dilalui berupa perkebunan rakyat yang licin dan berlumpur serta tanjakan yang cukup melelahkan. Dua jam kemudian kami tiba di pintu hutan dan beristirahat untuk makan siang, pendakian dilanjutkan dengan medan yang semakin licin, hutan mulai menebal dan semak-semak yang rimbun karena jarang dilalui orang. Terkadang kami harus merambas semak untuk menemukan jalan serta melalui sungai besar dan kecil. Dalam perjalanan kami menemukan gua kecil ( liang ) untuk beristirahat ( camp ). Pada pukul 19.30, team tiba di liang II Silahata dan beristirahat disana ( dekat dengan sungai kecil ).
Hari ke – 2
Hujan masih juga belum berhenti. Team bergerak pada pukul 09.00 melewati celah pegunungan menuju puncak Manusella, menyusuri pinggiran bukit dengan tanjakan yang rata-rata berkemiringan 70 derajat. Pohon-pohon di kawasan ini diselubungi lumut tebal. Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, kami tiba di puncak Manusella, namun desa Manusella tidak dapat kami lihat dengan jelas karena ditutupi oleh kabut. Team tidak membuang-buang waktu lantas ke desa Manusella dan tiba di sana pada malam hari.
Hari ke – 3
Team bergerak kesiangan karena matahari menampakkan sinarnya karena matahari menampakkan sinarnya sehingga kami manfaatkan untuk mengeringkan barang-barang yang basah dan lembab. Rute Manusella – Silumena melewati hutan kecil dan menyusuri sungai ( sungai ini sering banjir pada waktu musim hujan ). Rute tersebut dapat ditempuh dalam waktu 5 jam.
Hari ke – 4
Team berangkat menuju desa Kanikehyang yang direncanakan ditempuh selama setengah hari, rute ini masih menyusuri kali Isal dan hutan kecil.Namun kami sempat kehilangan jalan yang tertutup semak selama 5 jam sehingga kami dengan terpaksa harus bermalam di jalan.
Hari ke – 5
Kami tiba di desa Kanikeh pada siang hari. Desa Kanikeh merupakan tempat beroperasinya Operation Relight pada tahun 1984 dengan ketinggian 480 mDpl dimana penduduk mayoritas beragama Kristen. Di desa ini telah terdapat sebuah Sekolah Dasar. Pada malam harinya, team mengadakan upacara adat untuk berkah keselamatan dalam perjalanan yang dipimpin oleh ketua adat desa Kanikeh karena gunung ini masih dianggap keramat oleh penduduk setempat.
Hari ke – 6
Team berangkat pada pukul 07.30 setelah hujan agak mereda. Ransel, sebagian makanan dan barang yang tidak digunakan kami tinggal di desa Kanikeh. Pendakian menuju puncak Binaiya harus menggunakan/membawa pemandu dari desa Kanikeh. Satu jam pada awal perjalanan masih melalui perkebunan rakyat dan menyeberangi sungai, setelah itu menanjak memasuki hutan selama satu jam dan tiba di camp I, Wayansela ( 1000 mDpl ). Dari Wayansela menuju ke camp II Wai Huhu ( 1900 mDpl ). Pendakian semakin menanjak dan berlumut dimana di sekeliling kawasan ini dipenuhi dengan tumbuhan bambu beracu ( istilah masyarakat setempat ) serta pohon pakis. Pukul 16.15 kami tiba di camp Wai Huhu, disini air tidak menjadi masalah karena hujan turun cukup lebat dan malam harinya team sempat was-was karena hujan belum mau berhenti.
Hari ke – 7
Hujan belum juga berhenti sehingga akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dalam hujan. Yang kami bawa dalam perjalanan menuju puncak hanya pakaian yang kami kenakan, makanan kecil dan perlengkapan dokumentasi. Sleeping bag dan perlengkapan lainnya kami tinggal di tenda. Kami bertekad untuk mencapai puncak hari itu juga. Medan hutan yang dilalui cukup rapat, sehingga kami bergerak hati-hati dan memberi tanda. Perjalanan melalui medan hutan selama satu jam dilanjutkan dengan medan berbatu cadas yang ditutupi lumut. Tepat pada pukul 11.55 team ekspedisi PAMALAYA ’94 tiba di puncak gunung Binaiya ( 3027 mDpl ). Setelah berdoa, berfoto dan makan di puncak Binaiya, akhirnya pada pukul 14.15 kami turun menuju camp Wai Huhu dimana perjalanan kami lakukan dengan sangat hati-hati mengingat kabut yang cukup tebal menutupi jalan yang kami lalui.
Hari ke – 8
Team bergerak turun menuju ke desa Kanikeh melalui jalur yang sama.
Hari ke – 9
Setelah bermalam satu hari di desa Kanikeh, kami meninggalkan desa melalui jalur utara. Medan disini tidak terlalu menanjak. Hanya melalui sungai besar dan kecil serta hutan yang tidak begitu lebat. Sore hari kami tiba di km 30 proyek HPH. Jalan tanah diguyur hujan sehingga berlumpur sedalam betis yang menghambat perjalanan kami. Kemudian kami mendapatkan tumpangan traktor di km 27. Di km 27 lumpur mulai berkurang dan tanah agak mengeras. Malam harinya kami bermalam di camp pekerja kayu.
Hari ke – 10
Karena tidak ada truk yang masuk kami berjalan dari km 27 sampai km 11 dengan jalan yang becek dan udara panas karena pada hari ini hujan tidak turun. Di pulau Seram, apabila dibagian selatan musim hujan maka di bagian utara musim panas. Dari km 11 kami mendapat tumpangan truk kayu ke desa Alkamat. Dari desa Alkamat kami harus menyusuri pantai sepanjang 1 km menuju desa besi. Perjalanan terakhir team ekspedisi adalah menyeberang dari desa Besi menuju Saka ( Saleman ) menggunakan perahu kayu selama 1 jam. Senja hari kami tiba di terminal Saka.
Hari ke – 11
Team berangkat menuju Ambon menggunakan bis trans Seram.
Ekspedisi PAMALAYA’94 telah diselesaikan dengan sukses. Waktu 12 hari yang direncanakan akhirnya bisa lebih dipersingkat menjadi 10 hari. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan.
Sesampai di Mataram, team disambut oleh Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTB, Kepala Sekolah Menengah Atas 1 Mataram tercinta kami, bapak Drs. Sri Bintoro Hadiwidjojo, ketua PALASMA angkatan XVI Herwin Prabawananda dan seluruh pengurus beserta anggota dan para alumni.