Gunung Agung yang memiliki ketinggian 2725mdpl dan terletak di pulau Bali ini dapat kita tempuh melalui beberapa jalur sebenarnya. Kebetulan yang sudah pernah saya lalui adalah jalur Pura Besakih dan Jalur Pura Pasar Agung. Uniknya, setiap jalur pendakian memiliki puncak yang berbeda – beda pula. Karena puncak Besakih adalah yang tertinggi makanya Jalur Besakih menjadi jalur umum yang paling sering dilalui oleh para pendaki bila ingin mendaki Gunung Agung.
Dalam kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman saya dan bang Verdo mendaki gunung Agung melalui Jalur Pura Pasar Agung.
Setelah packing barang dan melakukan persiapan kecil – kecilan, saya, bang Verdo dan teman sekantor kita Omo kita segera berangkat ke Kreneng sebelum ke Ubung sebagai terminal utama yang menjadi titik awal pendakian kita. Dari Ubung kita estafet ke Terminal Batu bulan, Gianyar. Segera setelah itu kita langsung mendapat bus jurusan terminal Klungkung. Sewaktu menunggu bus berikutnya yang akan membawa kita ke Pura Besakih (karena awalnya kita merencanakan naik lewat Jalur Pura Besakih) kami terlibat pembicaraan dengan seorang kernet bus. Doi mengatakan jalur Pura Pasar Agung lebih menantang. Merasakan desiran adrenalin yang mengalir deras kami menanyakan kepada Omo (karena Omo baru pertama mendaki gunung) mau nggak lewat jalur yang agak menantang. Si Omo bilang, “Siapa takut??” Akhirnya kita putuskan jalur pendakian melewati Jalur Pasar Agung. Dan kebetulan juga si kernet ngasi ongkos bus yang sama dengan ke Pura Besakih, walaupun katanya lebih jauh. OK! Sepakat! Berangkat!
Singkat cerita akhirnya kita sudah dalam perjalanan ke Pura Pasar Agung, dan ketika tiba di sebuah pertigaan kami bertiga yang kebetulan sebagai penumpang terakhir di suruh turun. Lho???? Pura Pasar Agungnya mana bli? Doi nyaut, ” Oh, masih di atas sana. Mobil ndak ada ndak yang bisa naik kesana, sewa ojek aja!” katanya. Anjing!! Setelah sebal dan memaki-maki kita masih sempat diberi kado terakhir, ASEP KNALPOT BUS nya si kernet bangsat itu!
Akhirnya dengan langkah gontai kita berjalan menuju sebuah warung yang terletak di dekat pertigaan tersebut. Setelah beli makan beli minum si penjual mau juga bagi – bagi info. Katanya kalo naek ojek mahal, enakan naek Angkutan Desa aja lebih murah. Lah??? Siawalan!! Katanya kernet itu mobil nggak bisa naek ke sana!! OK lah setetlah cuap cuap akhirnya kita dapet tumpangan Angkutan Desa dengan charter Rp25.000,-.
Untuk menuju Pura Pasar Agung kita menempuh perjalanan selama 45 menit, melewati hamparan ladang penduduk yang masih sangat asri ditambah dengan pemandangan gunung yang sedikit sedikit dengan agak malu malu sudah mulai menampakkan diri.
Tiba di Pura Pasar AgungĀ ternyata kita masih harus menaiki tangga yang kok kayaknya nggak pernah habis! Setelah sampai halaman Pura, kita langsung disambut kabut tipis yang sudah mulai turun seiring dengan waktu yang sudah mulai senja. Selain disambut kabut, yang paling memukau adalah puncak gunung Agung yang langsung terpampang di depan mata kami. Wow! Indah nian!
Seperti yang kita tahu, pendakian gunung Agung adalah pendakian 1 hari. Beda dengan pendakian gunung Rinjani yang memakan waktu berhari – hari. Karena pendakian 1 hari, jadi kami nge-camp dulu di halaman pura sambil menunggu malam. Karena pendakian akan kita mulai tepat pukul 12 malam agar dapat melihat sunrise di puncak Gunung Agung.
Pukul 12.00 malam pun tiba, kami bersiap, kami berdoa dan kami mulai berjalan. Begitu masuk pintu hutan kami melihat tidak ada perbedaan mencolok antara jalur Pura Besakih dengan jalur ini. Tapi setelah 30 menit dari pintu hutan ennggg innnggg ennggggg….. jebret! Jalurnya batu man!! kayak jalur Senaru di Rinjani! Ditemani cahaya bulan purnama, kami terus mendaki sambil sesekali istirahat memulihkan tenaga. Jalur pendakian ini walaupun jauh lebih terjal daripada jalur Besakih, namun menurut kami memang lebih menarik dan menantang. Karena di samping pandangan kita dapat lebih jauh melihat (karena Jalur Besakih adalah Hutan Tropis) di kanan kiri kita terdapat aliran – aliran mata air sehingga kita dapat lebih mudah mencari air kalau – kalau kehabisa air. Tidak seperti jalur Besakih yang sangat sulit air.
Pada pukul 6.15 wita akhirnya kami tiba di puncak. Pada saat itulah kami baru sadar ternyata puncak Pura Pasar Agung dengan puncak Pura Besakih itu berbeda. Puncak Pura Pasar Agung terletak di seberang Puncak Pura Besakih atau dipisahkan oleh kawah gunung Agung dan tebing curam yang dalam sehingga memang tidak memungkinkan untuk kita menyeberang kita puncak seberang. Di puncak inilah saya mendapat kehormatan untuk memotong rambut bang Verdo, sehingga tidak Grondong lagi.
Sampai saat ini saya dan bang Verdo belum sempat mencoba jalur pendakian yang lain yaitu Jalur desa Buddhakeling. Mudah – mudahan ada kesempatan sehingga bisa saya ceritakan lagi di forum ini. Atau mungkin ada yang akan menceritakan kepada saya dan bang Verdo?
Salam Lestari