Kisah perjalanan singkat menikmati keindahan alam Gede – Pangrango ini sebenarnya adalah salah satu pengalaman saya mendaki gunung yang paling menarik. Selain memang pengalaman pendakian saya sangat sedikit hehehehe…
10 Agustus 1998
Saya sedang mempersiapkan rencana pendakian saya ke Gunung Gede – Pangrango, Jawa Barat.
Rencana pendakian ini sebenarnya sudah saya susun selama 4 bulan. Sejak pertemuan saya dengan seorang pendaki Yogya di gunung Rinjani pada bulan April lalu. Kami berjanji akan melakukan pendakian bersama ke gunung Gede – Pangrango sekaligus merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pada rencana awal, rekan – rekan PALASMA banyak yang tertarik akan berangkat. Tapi sayang setelah mendekati hari H, semua mengundurkan diri dengan berbagai macam alasan yang menurut saya sebenarnya sangat klise yang disampaikan oleh seorang pendaki gunung.
“Sorry bro, saya nggak dapet ijin dari orang tua…” Hahahahaha… ya sudahlah, mungkin pada saat itu para orang tua mereka sedang butuh kasih sayang sang anak hehehehe…
12 Agustus1998
Hari keberangkatan itupun tiba. Setelah menunggu 1 x 24 jam ternyata hanya saya sendiri yang memastikan keberangkatan ini. Karena bayangan pemandangan nan indah Alun alun Surya Kencana, akhirnya saya segera berangkat. Selagi menunggu angkutan umum, saya melihat ada seorang yang berlari sambil memanggul ransel hijau. Ternyata Sahrul Osh, seorang anggota SAMPALA, yang mendengar rencana keberangkatan saya berniat untuk ikut. Akhirnya saya berangkat berdua dengan Osh. Pukul 12.15 wita bus yang kami tunggu untuk mengantar kami ke pelabuhan Lembar pun tiba. The Journey is Began!
13 Agustus 1998
Saya terbangun akibat guncangan yang agak keras dari bus yang saya tumpangi. Saya dan Osh mendapat keberuntungan karena mendapat tawaran naik bus langsung dari pelabuhan Padang Bay, Bali ke terminal Ubung, Bali dengan harga murah. Sesampai di Ubung kami langsung membuang isi perut dan kembali mengisinya di warung sekitar terminal. Kami memutuskan perjalanan akan kita lanjutkan ke Jember selanjutnya Solo baru kemudian dari Solo ke Jakarta.
Kami tiba di Jember sudah menjelang sore, kami langsung melanjutkan ke Solo.
14 Agustus 1998
Tiba di Solo sudah tengah malam. Kami terpaksa tidur di terminal karena bus ke Jakarta sudah tidak ada. Menjelang subuh bus jurusan Jakarta tiba. Kami langsung naik walaupun setelah itu diomelin supir bus karena bus tidak akan langsung berangkat. Y sudahlah setelah nego-nego akhirnya kita diberi ijin tidur di bus sembari menunggu jam keberangkatan.
Akhirnya setelah terkatung – katung di terminal Solo dan mengalami pecah ban di sekitar daerah cirebon kami sampai di terminal Kampung Rambutan. Di sini kami sudah dijemput oleh teman lama saya, Jati Asmara.
15 Agustus 1998
Di kampung Rambutan kami kembali. Kami menunggu kedatangan Iwan yang berjanji akan bertemu kami di terminal ini untuk kemudian berangkat bersama ke Cibodas. Akhirnya setelah menunggu selama 45 menit Iwan pun datang maka kita segera berangkat.
Sesampai di Cibodas kami segera mengurus segala persyaratan administrasi sebelum melakukan pendakian. Masalah pertama muncul. Kuota pendakian gunung Gede-Pangrango dinyatakan penuh. Jadi kami harus menunggu konfirmasi dari jalur pendakian lain. Apabila juga penuh maka pendakian kami harus dibatalkan hari ini sampai ada pendaki yang sudah turun. Atau, apabila kuota dari jalur lain masih kosong maka kami akan diberikan kuota tersebut. Hal ini sangat mendebarkan karena saya dan Osh sudah melakukan perjalanan yang jauh dari Lombok, sementara sampai saat itu belum mendapat kepastian ijin mendaki kami peroleh. Akhirnya pada pukul 14.00 kita diperbolehkan naik. Ijin hanya diberikan untuk 15 team pendakian sementara kami ada di nomer urut 13! Nyaris!
Masalah kedua muncul. OSH TIDAK MEMILIKI KTP!!!! Mampus! Sementara syarat utama pendakian di gunung – gunung jawa terutama Gede – Pangrango yang terkenal disiplin KTP adalah WAJIB!
Untunglah disaat kebingungan itu ada 2 orang pendaki yang menawarkan KTP rekan mereka. Karena ternyata mendaki gunung Gede – Pangrango dalam 1 team minimal 3 orang pendaki. Pelajaran tambahan lagi buat kami, karena di gunung Rinjani pendakian solo sangat dimungkinkan dan diijinkan. Anyway, 2 orang pendaki tersebut mau memberikan KTP rekan mereka tersebut dengan syarat mereka diijinkan bergabung dengan team mereka. Akhirnya kami sepakat bergabung. Osh pun berubah nama menjadi RONNY hahahaha
Akhirnya masalah ketiga muncul juga. Di gunung Gede-Pangrango ada peraturan bahwa dalam 1 team pendakian maksimal membawa pisau 1 buah dengan ukuran yang sudah diatur dalam peraturan keselamatan pendakian. Sementara kami yang merupakan gabungan 2 team membawa 3 pisau. Saya dan Osh membawa masing 1 buah pisau sedangkan team lain membawa 1 lagi.
Saya sempat berdebat dengan pihak Jagawana karena menurut saya membawa pisau dalam pendakian adalah merupakan persyaratan mutlak bagi setiap pendaki. Pisau adalah perlengkapan pribadi bukan team. Tapi saya tetap tidak mungkin memenangkan perdebatan karena hal tersebut sudah diatur dalam peraturan dan petunjuk keselamatan untuk melukan pendakian ataupun kegiatan perkemahan dikawasan Taman Nasional Gede-Pangrango. Akhrinya kami diberikan sedikit solusi, menunggu team lain yang tidak membawa pisau. Kemudian pisau tersebut saya titipkan ke pada mereka untuk kemudian kami ambil kembali di akhir pendakian. Ya sudahlah daripada disuruh turun lagi?!
Akhirnya masalah semua sudah teratasi. Perjalanan tenang dimulai.
Saya takjub dengan jalur pendakian Gede-Pangrango. Jalurnya lebar dan bersih. Kami bisa berjalan beriringan bertiga dalam satu jalur. Belum jauh berjalan kita langsung dihibur dengan telaga Biru. Telaga seluas 5 hektar yang selalu nampak kebiruan karena ditumbuhi oleh ganggang biru. Sangat indah. Awal pendakian ini jalur masih terasa lembut. Tanah empuk yang masih agak landai. Kami juga menyempatkan diri melihat Air Terjun Cibeureum. Yang saya ingat ada sedikit legenda dengan Air terjun tersebut. Setelah 2 jam perjalanan, jalur mulai sedikit sangar sampai akhirnya kami bertemu dengan pos Air Panas.
16 Agustus 1998
Pagi, dingin, kabut, matahari dan semangat. Gambaran sederhana kalau baru bangun tidur di gunung.
Setelah buang isi perut kami lanjutkan dengan mengisinya. Lalu diselesaikan dengan melanjutkan perjalanan. Perjalanan kembali lembut kembali sangar.
Pukul 10.00 wib kami akhirnya sampai di pos Kandang Badak. Pos Kandang Badak merupakan pos utama tempat para pendaki beristirahat sebelum mengunjungi puncak Pangrango atau melanjutkan ke puncak Gede sebelum ke Alun alun Surya Kencana. Saya dan Osh berencana akan mengunjungi puncak Pangrango sebelum ke Alun alun.
Pukul 11.00 wib setelah puas beristirahat dan mengisi perut saya dan Osh melanjutkan perjalanan ke puncak Pangrango, sementara Iwan bertugas menjaga barang – barang kami di pos Kandang Badak. Perjalanan ke puncak Pangrango memakan waktu sekitar 3 jam naik dan 1 jam turun. Pukul 14.15 wib saya dan Osh tiba di puncak Pangrango.
Puncak Pangrango ditandai dengan adanya patok Pangrango setinggi 2m yang ditanam tepat dititik triangulasi tertinggi.
Sekembalinya ke Kandang Badak pada pukul 15.30wib, pada pukul 16.00wib kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Gede. Perjalanan mulai sangat menantang. Selain karena sudah mulai dipengaruhi ketinggian sehingga mulai dipengaruhi oleh disoriented syndrome, jalur memang sudah sangat terjal. Tiba di tanjakan SETAN kami semua bergelayut di seutas tali sebelum bisa melanjutkan perjalanan.
Akhirnya pada pukul 18.30 wib kami tiba di puncak Gede 2.958mdpl. Tak terasa akhirnya satu persatu tujuan perjalanan ini tercapai. Dimulai dari tercapainya puncak Pangrango 3,019mdpl lalu puncak Gede dan sekarang sudah terhampar di depan mata Alun alun Surya Kencana yang fenomenal.
Pukul 19.00 wib, sewaktu gelap sudah mulai turun dan dingin sudah mulai mengecup kulit, kami tiba di Alun alun Surya Kencana. Tenda kami dirikan dengan kecepatan ekstra agar segera dapat menghindar dari gigitan dingin angin lembah yang sudah mulai berani menggigit tulang kami. Mungkin karena terlalu letih juga akhirnya kami langsung tertidur walaupun mengganjal perut hanya dengan biskuit berkalori tinggi. Tidak ada yang sanggup untuk memasak. TIDUR!
17 Agustus 1998
Akhirnya hari itu tiba. Hari kemerdekaan bangsa kita. 17 Agustus 1998. Kami semua bersiap. Kami semua berjalan menuju lapangan upacara. Upacara akan dipimpin oleh seseorang, yang karena anginnya cukup besar membuat saya nggak ndeger nama orang itu hehehehe..
Namun intinya adalah walaupun perjuangan yang saya lakukan untuk mencapai puncak Gede-Pangrango berbeda dengan perjuangan para pahlawan kemerdekaan kita, namun esensi dari perjuangan itu ikut saya rasakan. Inilah sebuah kebanggaan yang sangat sulit saya dapatkan ditempat lain. Selalu menjadi sebuah pendakian yang mempunyai makna.
Setelah selesai melakukan upacara bendera, kami lalu mempersiapkan diri untuk turun. Jalur turun kami rencanakan adalah lewat jalur yang sama saat naik. Tapi ternyata jalur Cibodas sangat penuh. Kami dapat melihat dengan jelas dari Alun alun para pendaki jalan perlahan untuk menunggu pendaki yang lain yang di depannya. Akhirnya kami putuskan untuk turun melalui jalur gunung Putri.
Jalur gunung Putri merupakan jalur hutan hujan tropis yang sangat lebat. Hal ini menyebabkan jalur sedikit licin sehingga tidak jarang para pendaki jatuh terpeleset. Termasuk saya juga sebenernya.
Semakin bawah hutan semakin terbuka dan akhirnya kita mulai masuk ke perkebunan sayur penduduk. Tidak beberapa jauh berjalan akhirnya kami sampai di warung penduduk yang ternyata sudah dipenuhi oleh para pendaki yang lain yang terlebih dulu sampai.
18 Agustus 1998
Saya dan Osh tepar selama hampir 18 jam!! Perjalanan seru, seandainya saya punya kesempatan lagi ingin rasanya saya mengulangnya. Tak terasa saya dan Osh harus segera bersiap lagi. PULANG!
18 Mei 2008
Sudah 10 tahun kenangan perjalanan itu. Dan sampai saat ini saya belum ada kesempatan lagi buat mengulang pendakian itu.