Saya ingat waktu itu tanggal 29 Desember 2003 ketika saya berencana dengan Abang Verdo untuk mendaki gunung kebanggaan kita Gunung RINJANI. Kita berencana untuk merayakan tahun baru di danau yang super duper indah Danau Segara Anak. Awalnya kami sempat kecewa karena teman – teman yang awalnya janji akan ikut gabung ternyata membatalkan secara sepihak dan tanpa konfirmasi lebih lanjut. Lebih parah lagi ada salah seorang abang kita (baca: Koesnadi, red) yang menjanjikan akan menyusul ke Senaru (desa terakhir, red) sehingga mengharuskan kami menunggu hingga menjelang sore hari.
Akhirnya setelah dibuat frustasi akan penantian yang tiada akhir kami berdua memutuskan untuk memulai pendakian hanya berdua. Pendakian kita mulai tepat pukul 16 lebih 17 menit 11 detik Waktu Indonesia Tengah (WITA). Dengan formasi saya sebagai leader sementara bang Verdo (seperti biasa) menjadi sweeper.
Sewaktu pendakian dimulai kami berdua tidak merasakan firasat apapun selain gembira karena akhirnya mempunyai kesempatan (lagi) untuk mendaki Gunung Rinjani. Diiringi dengan musik BOB DYLAN dari radio/tape mungil hasil pembelian mesin cuci (mamanya) bang Verdo kami mulai mendaki dengan semangat juang ‘65.
Kesalahan pertama kita mulai ketika maghrib mulai menjelang (sandikala dalam agama Hindu – red). Tanpa memperhatikan alam (terlihat dan tidak terlihat(sekala niskala dalam agama Hindu – red)) sekitar kami, kami ‘cuek’ aja makan crackers sambil jalan ataupun tertawa terbahak-bahak sambil tetap mendengarkan musik (sebenarnya hal tersebut kita lakukan untuk menghilangkan rasa takut yang mulai menyerang terutama ketika melewati BUNUT NGENGKANG – red). Kami tersadar akan kesalahan tersebut sejak kami melihat jam dan tanda – tanda alam sekitar. Ternyata kita sudah melewati jalan yang sama sebanyak 2 kali sementara POS 2 sampai saat itu belum terlihat!!! Sadar akan kesalahan tersebut akhirnya saya memutuskan untuk over position dengan bang Verdo karena saya sebagai leader mulai merasakan kepanikan yang RUuuAaar BiaAsaa!!
Setelah formasi berubah ternyata kita melewati jalan yang sama kembali dengan tanda – tanda yang sama ketika akan mencapai POS 2 tapi POS 2 tetap tidak terlihat batang hidungnya (maaf, maksudnya batang kayunya – red)!! Akhirnya kami berdua melaksanakan metode STOP (Sit, Think, Observe, Plan) yang sebenarnya pernah kita lakukan hanya sewaktu pendidikan ( itupun karena pura – pura tersesat – red ). Hasil metode STOP tersebut kami pun menyadari kesalahan kami dan memutuskan untuk memberikan sesembahan atau sesaji berupa makanan yang kami bawa dan sebatang rokok. Tak lama rokok tersebut pun habis terbakar dan secara tak sengaja kami mengarahkan senter ke balik pohon dan akhirnya apa yang kami cari selama 4 jam itu pun terlihat, rekan – rekan pembaca. POS 2!!!
Di POS 2 kami hanya makan nasi bungkus yang kami bawa dari Senaru (desa terakhir – red) dan membakar 1 batang rokok berdua untuk mempercepat waktu kita di POS 2. Karena selain hanya kami berdua di POS 2, kami juga sebenarnya sangat atyuuutttt….!!!
Akhirnya setelah mengahabiskan sebatang rokok kami melanjutkan perjalanan ke POS 3 dan bermalam di POS 3. Lalu keesokan paginya melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak yang indah. Sesampainya di Base Camp danau barulah kami berdua membayangkan perjalanan SYEREEM kami berdua tersebut. Seandainya kita tidak pernah mengenal metode STOP yang pernah diajarkan di pendidikan. Terima kasih kami ucapkan kepada abang – abang instruktur PDPA yang sudah mengajarkan metode STOP kepada kami.